Another Source

Buying A New Car

There are many things that you must consider when buying a new car. Most will have to do with the car itself such as what model to buy- the options you want to add- and the price of the car. However there is one thing that it always pays to check out first- and that is- who are you buying the car from.

CAR INSURANCE FOR LADY DRIVERS

Car insurance companies prefer lady drivers to their gentlemen counterparts because they are considered as much less risky drivers.It is not that the accident rates of ladies are low. They face as many accidents as males do

AUTO LOAN NEW CAR

Is it time to get a new car? Do you want to purchase a new car to replace your current worn down vehicle? If yes is your answer- then you might want to think about your purchase and getting a loan for your new investment

CAR INSURANCE

America has become a culture of cars-SUV's- minivans and sports coupes. With all this traveling in and out- back and forth around the maze that is the United States infrastructure

NEW CAR LEASING TIPS

If you do have an accident with the outside or the inside of the car - you may have to pay for the cost. You will also only be allowed to put on so many miles in your lease period. This is hard for many people that do drive a lot

Tampilkan postingan dengan label Sistem Komunikasi Serat Optik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Komunikasi Serat Optik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

Sistem Komunikasi Serat Optik


4. Konsep  Dasar Sistem Komunikasi Serat Optik
  4.2.1 Umum
       Saat ini kemajuan di bidang telekomunikasi begitu pesat sehingga berdampak pada perkembangan teknologi informasi. Transmisi optik tampaknya menjadi ide perubahan cepat, dimana dengan penggunaan serat optik sebagai medium  transmisi  memberikan  dampak pada  keandalan yang tinggi, kapasitas yang besar dan  kualitas yang tinggi menjadi pilihan dalam pembangunan sistem telekomunikasi.
  4.2.2  Pengertian Serat Optik
       Pengertian serat optik secara umum ialah sistem komunikasi yang menggunakan cahaya sebagai pembawa sinyal informasinya. Pada sistem ini di sisi pengirim menggunakan sumber optik untuk mengubah informasi menjadi sinyal optik kemudian di sisi penerima di pasang detector optik, dengan menggunakan media transmisi serat optik. Arah terima sinyal cahaya yang diterima dari sumber optik akan diubah oleh detector optik menjadi sinyal elektrik kembali kemudian masuk ke sirkuit output kemudian diadakan pengaturan dan penguatan sebelum diteruskan kembali ke multipleks di penerima.
       Jika transmisi SKSO digunakan untuk jarak jauh maka sinyal yang dikirim memiliki redaman yang besar yang dapat mengakibatkan sinyal kirim tidak dapat dibaca di penerima sehingga untuk mengatasinya diperlukan repeater. Sinyal cahaya tersebut akan diproses menjadi sinyal listrik lalu dikuatkan kembali menjadi sinyal optik.



4.2.3 Susunan dan Konstruksi Serat Optik


Susunan kabel serat optik terbagi atas tiga bagian yaitu :
*   Core ( inti ), berfungsi untuk menentukan cahaya merambat dari satu ujung ke ujung lain. Core terbuat dari bahan kuarsa dengan kualitas tinggi dan merupakan bagian serat optik karena perambatan cahaya sebenarnya terjadi pada bagian ini. Core mempunyai diameter berukuran 2 s/d 125 µm.
*   Cladding ( lapisan ),berfungsi sebagai cermin yang memantulkan cahaya agar dapat merambat ke ujung lainnya. Cladding terbuat dari bahan gelas dengan indeks bias lebih kecil dari core dan merupakan selubung core. Cladding mempunyai diameter berukuran 5 s/d 250 µm.
*   Coating ( jaket ), sebagai pelindung mekanis dan tempat kode warna, terbuat dari bahan plastik dan berfungsi melindungi serat optik dari kerusakan.
 
4.3 Konfigurasi Sistem Komunikasi Serat Optik
4.3.1Konfigurasi  Link
 4.3.2Konfigurasi Sistem


Dalam arah kirim, input sinyal yang berasal dari perangkat Multiplex digital dihubungkan ke Digital Distribution Frame (DDF) dan diteruskan ke Electrical Circuit. Fungsi Electrical Circuit adalah memperbaiki karakteristik dan mengkodekan sinyal yang diteruskan ke Optical Transmitter.
       Pada Optical Transmitter, sinyal listrik diubah menjadi sinyal pulsa cahaya yang dikirimkan ke stasiun lawan melalui serat optik.
       Sedangkan pada arah terima, sinyal pulsa cahaya yang diterima dari serat optik akan diubah oleh Detector Optik menjadi sinyal listrik yang akan diteruskan ke Electrical Circuit. Fungsi Electrical Circuit pada arah terima sama dengan pada arah kirim. Output sinyal dari Electrical Circuit akan diteruskan ke perangkat Demultiplex setelah melalui DDF.
       Digital Distribution Frame (DDF) digunakan untuk lokalisir gangguan, sebagai terminasi, digunakan dalam pengukuran/test link, dan digunakan jika ada pasang baru.



       4.3.3  Secara keseluruhan , link yang dioperasikan oleh P.T Telkom ada tiga:
SUB (Surabaya-Ujung Pandang-Banjarmasin) menggunakan:
 a. Nortel Stm-16 (2.5 Gbit)
 b. Alcatel Stm-16 (2.5 Gbit)
                   c. Siemens Stm-64 (10 Gbit)
1.    T-21
                 T-21 Menggunakan Siemens Stm-16 (2.5 Gbit)
    

2.    Forma (Fiber Optic Ring Makassar)
(Balaikota-Mattoanging,Sungguminasa-Takalar-Jeneponto-Bantaeng-Bulukumba-Sinjai-Watampone-Libureng-Maros-Panakukkang-Balaikota).

4.4     Standard Operation Procedure and Standard Maintenance Procedure
       4.4.1 Standard Operation Procedure



1.    Untuk menentukan jarak sambungan
2.    Mengetahui lokasi titik penyambungan dan berapa besar lossnya
3.    Untuk menganalisis setiap kejadian-kejadian sepanjang serat yang diukur (patahan atau redaman)
ü Prinsip Kerja OTDR
·      Memancarkan pulsa-pulsa cahaya dari sebuah sumber dioda laser kedalam sebuah Serat Optik.
·      Sebagian sinyal-sinyal dibalikan ke OTDR, sinyal diarahkan melalui sebuah coupler ke Detektor Optik dimana sinyal tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan ditampilkan pada layar CRT.
·      OTDR mengukur sinyal balik terhadap waktu.
o  Waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan cahaya.
o  Tampilan OTDR menggambarkan daya relatif dari sinyal balik  terhadap jarak dan dibagi 2 karena sinyal membutuhkan waktu itu untuk pulang dan pergi.
ü Pemakaian OTDR
1.  Saat instalasi
OTDR dipakai untuk memastikan loss sambungan, konektor dan loss karena tekukan atau tekanan terhadap kabel.
2.  Dalam pemeliharaan
Pengecekan periodik untuk memastikan tidak ada kelainan pada serat.
ü Beberapa Parameter yang dapat diukur pada OTDR
·      Jarak
Dalam hal ini titik lokasi dalam suatu link, ujung link atau  patahan.
·      Loss
Loss untuk masing-masing splice atau total loss dari ujung ke ujung dalam suatu link.
·      Atenuasi
Atenuasi dari serat dalam suatu link.
·      Refleksi
  Besar refleksi (return loss) dari suatu event.
ü Pengoperasian OTDR



Garis Hijau merupakan Kekuatan sinyal yang makin lama makin menurun akibat redaman sepanjang link
Garis Merah merupakan Redaman pada titik sambungan

1.Optical DWDM Analyzer
     Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM)



Digunakan untuk mengukur atau mengetahui berapa besar λ (lamda) yang dipancarkan oleh perangkat  serta mengetahui besar daya pancarnya (dBm). Selain itu, melalui perangkat ini kita juga dapat mengetahui level noise (dBm), SNR (Signal to Noise ratio).
                     Pengoperasian Optical DWDM Analyzer :
o  Sambungkan  perangkat Optical DWDM analyzer keperangkat  monitoring menggunakan patch core.
o   Nyalakan Optical DWDM analyzer dengan menekan tombol Power hingga lampu indicator On berwarna hijau.
o  Tekan tombol “start” untuk memulai pengukuran.
o  Selanjutnya, dilayar bawah akan muncul hasil pengukuran  seperti panjang gelombang, Spacing, Noise, SNR dll.
o  Untuk mematikan tekan tombol system terlebih dahulu, pastikan bahwa panel Optical DWDM analyzer yang dilayar berwarna abu-abu lalu tekan tombol On/Off.
6.BER (Bit Error Rate) test

Adalah suatu alat yang digunakan untuk mengetahui nilai BER (Bit Error Rate) suatu kanal transmisi milik pelanggan. Dimana nilai BER adalah nilai dimana terdapat 1 bit transmisi yang error dari 1000 bit, jika nilai BER-nya 10^-3. Adapun fungsi lain dari alat ini adalah mengetahui gangguan yang terjadi pada kanal pelanggan misalnya Signal Loss, Clock Loss, AIS, Pattern Loss, Octet Loss, Frame Loss, & MFrame Loss, Alat ini pun memberikan informasi tentang keadaan kanal yang diukur BER-nya  misalnya sedang  dalam keadaan Remote Alarm yang berarti alarm yang disampaikan ke monitor telah diterima oleh operator namun indikasinya seperti bunyi yang ditimbulkan telah dikontrol atau suara yang ditimbulkan telah dihilangkan.
ü Pengoprasian BER test
·    Colokkan kabel power dan kabel monitoring pada tempat atau      slotnya   masing-masing.
·      Aktifkan BER test dengan menekan Power On
·      Sambil menunggu BER test ready, lakukan pengecekan pada DDF tentang letak transmisi kabel kanal pelanggan yang mengalami gangguan .( mis: pada monitor operator kanal yang mengalami gangguan beridentitas A15_04_13, maka terletak pada kolom A15, frame ke4, dan point terminasi ke 13)
·      Setelah mengetahui letak point terminasi, maka tentukan point output TX dan RX-nya. Salah satu caranya adalah menggunakan LED jika LED menyala maka point tersebut adalah output TX dan begitupun sebaliknya.
·      Tekan Start/Stop pada BER test, sambungkan penjepit merah pada output TX dan penjepit kuning pada output RX.
·      BER test akan menampilkan pada display nilai BER dari kanal yang telah diukur tadi, dan juga akan menampilkan gangguan-gangguan dan keadaan kanal tadi lewat LED-LED Indikator yang terdapat di bawah display.
·      Setelah pengukuran selesai, lakukan penyelesaian akhir kemudian matikan BER test dengan menekan Start/Stop

 
 7.CD (Chromatic Dispersi )
Cara pengukuran menggunakan CD


  4.4.2  Standard Maintenance Procedure (SMP)
 1.  Pemeliharaan harian meliputi
§  Pengecekan Visual Alarm Unit
§  Pengecekan Alarm Via NMS
§  Pengecekan Terminasi Kabel
§  BIR (Bersih, Indah dan Rapi) Perangkat & Ruangan
§  Pengecekan Kelembaban Ruangan (Normal : 55%-75%)
§  Pengecekan Temperatur Ruangan (Normal : 20-240C)
 2.   Pemeliharaan Mingguan meliputi :
§  Site Visit Landing Point
§  Pengukuran Kabel Idle FO
§  Patroli Kabel FO
 3.   Pemeliharaan Bulanan meliputi :
§  Pengukuran parameter Operasi
§  Optical Level Tx
§  Optical Level Rx
§  Electrical Power Source
§  Pengecekan Protection Unit
 4.   Pemeliharaan Tahunan

     Salah satu pemeliharaan harian yang kami laksanakan adalah :
                 NMS (Network Management System)
A. Berfungsi:
a.Monitoring alarm pada semua Network Element
b.Bisa melakukan control seperti:
1.   Troubleshooting terhadap ganguan yang terjadi pada Network  Element.
2.   Melakukan testing.
3.   Cross connect.
c.Kemudahan dalam menyelesaikan gangguan yang terjadi pada Network Element
d.Efisiensi waktu dalam menyelesaikan gangguan
B.  Konfigurasi NMS terbagi 2 yaitu:
 NCT (Network Craft terminal)


             Pada konfigurasi LCT setiap Client langsung terhubung ke NE (Network Element).
             LCT digunakan apabila terjadi emergency, yaitu apabila server mengalami kerusakan atau perangkat mengalami kerusakan sehingga server terputus.
             LCT memiliki kekurangan, yaitu jumlah network yang dimonitor maksimal 3 secara bersamaan. Apabila ingin melihat NE yang lainnya maka NE sebelumnya harus dilepas terlebih dahulu.
A. Pengoperasian Software NMS




A.     Penyambungan Optik T21 Makassar-Barru (Perpu)
 Terlebih dahulu petugas mendapat laporan bahwa transmisi optik mengalami perpu. Kemudian dilakukan pengecekan kerusakan menggunan Software NMS ternyata lokasi putusnya adalah T21 link terletak antara Makassar-Barru.
Selanjutnya dilakukan pengecekan menggunakan OTDR letak real dari lokasi perpu tersebut, ternyata lokasi putusnya adalah di Maros tepatnya pada sebuah Jembatan. Namun kondisi kabel  tidak memungkinkan untuk dilakukan penyambungan lagi, karena kabelnya sudah tidak dapat ditarik lagi ditambah lagi kualitas kable sudah tidak dapat dipertahankan. Solusinya  yaitu menggunakan kabel baru.


Setelah kabel yang baru telah dipersiapkan kemudian dilakukanlah penyambungan.
 Proses Penyambungan :
1.   Lakukan pengupasan pada kabel yang putus dan kabel baru pada masing-masing ujung
2.   Hilangkan jelly pada kabel memakai minyak tanah atau alkohol



















Mengenal Kabel Serat Optik


Media komunikasi digital pada dasarnya hanya ada tiga, tembaga, udara dan kaca. Tembaga kita kenal sebagai media komunikasi sejak lama, telah berevolusi dari hanya penghantar listrik menjadi penghantar elektromagnetik yang membawa pesan, suara, gambar dan data digital. Berkembangnya teknologi frekuensi radio menambah alternatif lain media komunikasi, kita sebut nirkabel atau wireless, sebuah komunikasi dengan udara sebagai penghantar. Tahun 1980-an kita mulai mengenal media komunikasi yang lain yang sekarang menjadi tulang punggung komunikasi dunia, yaitu serat optik, sebuah media yang memanfaatkan pulsa cahaya dalam sebuah ruang kaca berbentuk kabel, total internal reflection.
Sebuah kabel serat optik dibuat sekecil-kecilnya (mikroskopis) agar tak mudah patah/retak, tentunya dengan perlindungan khusus sehingga besaran wujud kabel akhirnya tetap mudah dipasang. Satu kabel serat optik disebut sebagai core. Untuk satu sambungan/link komunikasi serat optik dibutuhkan dua core, satu sebagai transmitter dan satu lagi sebagai receiver. Variasi kabel yang dijual sangat beragam sesuai kebutuhan, ada kabel 4 core, 6 core, 8 core, 12 core, 16 core, 24 core, 36 core hingga 48 core. Satu core serat optik yang terlihat oleh mata kita adalah masih berupa lapisan pelindungnya (coated), sedangkan kacanya sendiri yang menjadi inti transmisi data berukuran mikroskopis, tak terlihat oleh mata.
Bentuk kabel dikenal dua macam, kabel udara (KU) dan kabel tanah (KT). Kabel udara diperkuat oleh kabel baja untuk keperluan penarikan kabel di atas tiang. Baik KU maupun KT pada lapisan intinya paling tengah diperkuat oleh kabel khusus untuk menahan kabel tidak mudah bengkok (biasanya serat plastik yang keras). Di sekeliling inti tersebut dipasang beberapa selubung yang isinya adalah core serat optik, dilapisi gel (katanya berfungsi juga sebagai racun tikus) dan serat nilon, dibungkus lagi dengan bahan metal tipis hingga ke lapisan terluar kabel berupa plastik tebal. Dari berbagai jenis jumlah core, besaran wujud akhir kabel tidaklah terlalu signifikan ukuran diameternya.
Memotong kabel serat optik sangat mudah, cukup menggunakan gergaji kecil. Sering terjadi maling-maling tembaga salah mencuri, niatnya mencuri kabel tembaga yang laku di pasar besi/loak malah menggergaji kabel serat optik. Yang sulit adalah mengupasnya, namun hal ini dipermudah dengan pabrikan kabel menyertakan serat nilon khusus di bawah lapisan terluar yang keras sehingga cukup dikupas sedikit dan nilon tersebut berfungsi membelah lapisan terluar hingga panjang yang diinginkan untuk dikupas.
Untuk apa dikupas? Tentunya untuk keperluan penyambungan atau terminasi. Kita lihat dulu bagaimana pulsa cahaya bekerja di dalam serat kaca yang sangat sempit ini. Kabel serat optik yang paling umum dikenal dua macam, multi-mode dan single-mode. Transmitter cahaya berupa Light Emitting Diode (LED) atau Injection Laser Diode (ILD) menembakkan pulsa cahaya ke dalam kabel serat optik. Dalam kabel multi-mode pulsa cahaya selain lurus searah panjang kabel juga berpantulan ke dinding core hingga sampai ke tujuan, sisi receiver. Pada kabel single-mode pulsa cahaya ditembakkan hanya lurus searah panjang kabel. Kabel single-mode memberi kelebihan kapasitas bandwidth dan jarak yang lebih tinggi, hingga puluhan kilometer dengan skala bandwidth gigabit.
Inti kaca kabel single-mode umumnya berdiameter 8,3-10 mikron (jauh lebih kecil dari diameter rambut), dan pada multi-mode berukuran 50-100 mikron. Pulsa cahaya yang ditembakkan pada single mode adalah cahaya dengan panjang gelombang 1310-1550nm, sedangkan pada multi-mode adalah 850-1300nm.
Ujung kabel serat optik berakhir di sebuah terminasi, untuk hal tersebut dibutuhkan penyambungan kabel serat optik dengan pigtail serat optik di Optical Termination Board (OTB), bisa wallmount atau 1U rackmount. Dari OTB kabel serat optik tinggal disambung dengan patchcord serat optik ke perangkat multiplexer, switch atau bridge (converter to ethernet UTP).
Penyambungan kabel serat optik disebut sebagai splicing. Splicing menggunakan alat khusus yang memadukan dua ujung kabel seukuran rambut secara presisi, dibakar pada suhu tertentu sehingga kaca meleleh tersambung tanpa bagian coated-nya ikut meleleh. Setelah tersambung, bagian sambungan ditutup dengan selubung yang dipanaskan. Alat ini mudah dioperasikan, namun sangat mahal harganya. Inilah sebabnya meskipun harga kabel fiber optik sudah jauh lebih murah namun alat dan biaya lainnya masih mahal, terutama pada biaya pemasangan kabel, splicing dan terminasinya.
Pigtail yang disambungkan ke kabel optik bisa bermacam-macam konektornya, yang paling umum adalah konektor FC. Dari konektor FC di OTB ini kita tinggal menggunakan patchcord yang sesuai untuk disambungkan ke perangkat. Umumnya perangkat optik seperti switch atau bridge menggunakan konektor SC atau LC. Cukup menyulitkan ketika menyebut jenis konektor yang kita kehendaki kepada penjual, FC, SC, ST, atau LC.
Setelah kabel optik terpasang di OTB dilakukan pengujian end-to-end dengan menggunakan Optical Time Domain Reflectometer (OTDR). Dengan OTDR akan didapatkan kualitas kabel, seberapa besar loss cahaya dan berapa panjang kabel totalnya. Harga perangkat OTDR ini sangat mahal, meskipun pengoperasiannya relatif mudah. OTDR ini digunakan pula pada saat terjadi gangguan putusnya kabel laut atau terestrial antar kota, sehingga bisa ditentukan di titik mana kabel harus diperbaiki dan disambung kembali.
Untuk keperluan sederhana misalnya sambungan fiber optik antar gedung pada jarak ratusan meter (hingga 15km) kini teknologi bridge/converter-nya sudah semakin murah dengan kapasitas 100Mbps, sedangkan untuk full gigabit harga switch/module-switch-nya masih mahal. Jadi, meskipun harga kabel serat optik sudah di kisaran Rp10.000/m namun total pemasangannya membengkak karena ada biaya SDM yang menarik dan memasang kabel, biaya splicing setiap core-nya, pemasangan OTB, pengujian OTDR, penyediaan patchcord dan perangkat optiknya sendiri (switch/bridge).


Terminasi Fiber Optik, FDF, OTB, PS

PENYELESAIAN PEKERJAAN

7.1       Terminasi Kabel serat Optik


            Terminasi kabel serat optik maupun pencabangan kabel serta optik harus dilaksanakan dengan baik dan teratur, agar memudahkan dalam pelaksanaan administrasi kabel maka setiap titik terminasi harus diberikan identitas yang jelas meliputi nama/ nomor kabel, nama/ nomor fiber dan nama/ nomor terminal.
            Terminasi kabel serat optik di sentral maupun di gedung masing-masing dilaksanakan pada Fiber Distribution Frame (FDF) atau Optical Termination Board (OTB), sedangkan untuk terminasi kabel serat optik di perangkat outdoor dilaksanakan pada terminal yang ada didalam perangkat tersebut

7.1.1    Fiber Distribution Frame (FDF)


Fiber Distribution Frame (FDF) merupakan titik terminasi kabel serat optik outdoor dengan kabel serat optik indoor, FDF terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu bagian yang menuju jaringan dan bagian yang menuju sentral.

7.1.2    Pemilihan lokasi FDF


Pertimbangan pemilihan lokasi untuk penempatan FDF sebagai berikut :
a.    FDF dipasang  pada ruangan khusus yang bersih dan mempunyai ventilasi udara yang baik.
b.    Ruangan yang dipilih harus direncanakan secara terpadu dan cukup untuk pengembangan dikemudian hari.
c.    Penempatan FDF harus dipasang teratur dan berurutan disesuaikan dengan hasil survey yang telah dilakukan.
d.    Pemasangan FDF sebaiknya dekat dengan perangkat JARLOKAF sehingga dapat mengurangi rugi-rugi transmisi dan pig tail tidak terlalu panjang.
e.    Lokasi FDF dipilih pada tempat yang aman, mudah dijangkau, serta tidak mengganggu perangkat existing (bila ada).

7.1.3    Pemasangan FDF


            Langkah pemasangan FDF sebagai berikut :
a.    Pasang rak FDF dengan kokoh dan tidak miring pada lokasi yang benar dan tidak mengganggu lalu lintas personil.
b.    Pasang pentanahan pada rak FDF kemudian integrasikan dengan pentanahan perangkat sentral/ transmisi.
c.    Pasang bagian bawah rak FDF dengan angker agar terpasang mati pada lantai.
d.    Pasang kabel tray dari dan ke FDF untuk lintasan kabel.

7.1.4    Terminasi kabel pada FDF


Prosedur terminasi terminasi kabel pada FDF adalah sebagai berikut :

a.      Terminasikan kabel serat optik indoor pada panel konektor FDF adalah sebagai berikut :

b.      Terminasikan kabel serat optik outdoor pada panel konektor FDF adalah sebagai berikut :

c.      Pemasangan fiber optik pada splice cassette.

d.      Penyambungan fiber sebagai berikut :
e.      Cara menggulung extra length pada splice cassete sebagai berikut :


f.       Cara mengikat fiber pada splice cassete sebagai berikut :

g.      Konektor maupun ujung patchcord yang tidak digunakan harus selalu tertutup oleh dush cap.
h.      Untuk mencegah serangga pada rak FDF maka diperkenankan untuk dipasang kapur barus.
i.        Patchcord yang dipakai harus sesuai dengan spek dan mempunyai panjang yang cukup, tempatkan sisa panjang (extra length) patchcord tersebut pada cable drawer atau cable guide.

7.1.5    Pemasangan OTB

           
            OTB biasanya dipasang di dinding, namun cara pemasangannya hampir sama dengan pemasangan FDF.

7.1.6    Passive Splitter (PS)


            Passsive Splitter (PS) adalah tempat pencabangan serat optik secara pasif, dapat dipasang di sentral, di jaringan maupun di sisi pelanggan. Namun agar perangkat T-AURORA dapat difungsikan dalam jaringan kabel serat optik maka penempatan PS direkomendasikan di sisi sentral.
           

a          Pemasangan Passive Splitter di Closure


1)    Pasangkan splitter arrays pada splitter module.
2)    Lindungi serat optik yang keluar dari splice cassette dengan selongsong plastik.
3)    Perlu diperhatikan bahwa bend radius (radius bengkokan) serat optik tidak boleh kurang dari 30 mm.
4)    Lakukan penyambungan serat optik dari PS dengan serat optik yang menuju OLT dan ONU.
5)    Berikan label untuk setiap serat optik dan PS yang dipasang.
6)    Lakukan pengukuran redaman pada splitter module dengan cara menyalurkan sinyal optik melalui splitter tersebut dan pada ujung yang lain lakukan pengukuran dengan power meter.
7)    Tutup splitter module dengan closure.

b.         Pemasangan Passive Splitter di Kabinet


1)    Pasangkan splitter arrays pada splitter module.
2)    Lindungi serat optik yang keluar dari splice cassette dengan selongsong plastik.
3)    Perlu diperhatikan bahwa bend radius (radius bengkokan) serat optik tidak boleh lebih kurang dari 30 mm.
4)    Lakukan penyambungan serat optik dari PS dengan serat optik yang menuju OLT dan ONU.
5)    Berikan label untuk setiap serat optik dan PS yang dipasang.
6)    Lakukan pengukuran redaman pada splitter module dengan cara menyalurkan sinyal optik melalui splitter tersebut dan pada ujung yang lain lakukan pengukuran dengan power meter.
7)    Pasang splitter module pada slot splitter cabinet.


Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL/SKSO)


IV.I.KONFIGURASI SKSO/SKKL
            Secara garis besar ,Konfigurasi system komunikasi serat optic (SKSO) sebagai junction dapat di gunakan sebagai berikut




ú  Local exchange
Adalah sentral digital yang berfungsi untuk mengatr lalu lintas komunikasi antar pelanggan
ú  Multiplex
Adalah perangkat yang memproses penggabyngan beberapa sinyal digital parallel menjadi satu sinyal digital serial yang mempunyai kecepatan bit yang lebih tinggi
Orde 1 bit rate 2,048 kb/s
Orde 2 bit rate 8,448 kb/s
Orde 3 bit rate 34,368 kb/s
Orde 4 bit rate 139,264 kb/s
ú  Optical Line Terminal Equipment
Adalah perangkat yang berfungsi mengubah sinyal listrik menjadi sinyal optic pada bagian kirim untuk disalurkan melalui serat optic dan sebaliknya proses perubahan sinyal optic menjadi sinyal listrik pada bagian terima. Untuk itu pada bagian terminal optic digunakan sumber cahaya (Light Source) untuk pengiriman sinyal optic dan photodetector untuk mendeteksi sinyal cahaya menjadi sinyal listrik.

IV.2.GAMBARAN SISTEM KERJA SKKL Srb-UP-Bjm
            Srb-UP-Bjm memiliki ukuran yang sangat besar, lebar jalur dan jaringan yang modern, berbagai permintaan yang mengenali secara khusus dari segmen ke segmen untuk konstruksi sistem, operasi dan pemeliharaan. Jadi sub segmen untuk Srb-UP-Bjm sistem kabel laut ditentukan sebagai berikut:
            SISTEM 1 : (Surabaya-Makassar)
            Sistem 1 mencakup terminal equipment pada stasiun kabel Banyu Urip, Lamongan dan land repeater stasiun Cerme dan stasiun utama Rugkut.(wilayah Surabaya).
            Bagian land cable terdiri atas kabel darat antara pantai manhole ke stasiun kabel Banyu Urip,Banyu Uri ke stasiun Sukodadi ,kabel darat diantara stasiun Darmo dan stasiun Rungkut (sistem stasiun utama).Bagian ini di sediakan oleh KDD SCS.Tetapi bagian antara stasiun Darmo dan stasiun Sukodadi memilik bentuk yang sangat melengkapi (TELKOM ROUTE 129,2 Km).Jalur darat yang lain dari Banyu Urip ke Stasiun Kayun (Indosat) dirancang oleh Indosat dan Kayun ke sentral Rungkut dinamakan Indosat Route 77,6 Km yang juga merupakan salah satu sistem diversity dari wilayah Surabaya Submersible Plant (kabel dan repeater) diantara Banyu Urip dan stasiun kabel Kalukubodo (baru didirikan).Bagian land cable antara stasiun kabel Kalukubodo dan stasuin utama Pettarani serta antara stasiun utama Pettarani dan stasiun utama Balaikota (wilayah makassar 43 Km). Terminal Equipment di Pettarani, stasiun Balaikota dan stasiun kabel balaikota (wilayah Makassar).
            SISTEM 2 : (Makasar-Banjarmasin)
            Sistem 2 mencakup terminal equipment pada stasiun kabel Kalukubodo dan Pettarani dan stasiun Balaikota (wilayah Makassar).
Land Section sebagai kabel darat diantara stasiun kabel Kalukubodo dan stasiun Pettarani. Dan diantara stasiun Pettarani dan stasiun Balaikota (wilayah Makassar).
Submerise plant diantara Kalukubodo dan Stasiun kabel Takisung.
Bagian land kabel diantara stasiun kabel Takisung dan stasiun Banjarmasin.
Terminal equipment pada stasiun kabel Takisung dan stasiun utama Banjarmasin (wilayah Banjarmasin).
            SISTEM 3: (Surabaya-Banjarmasin)
            Sistem 3 dicakup oleh perangkat terminal pada stasiun kabel Takisung dan stasiun Sentral Banjarmasin (Banjarmasin area).
Land Section adalah sebagai kabel tanah antara stasiun Takisung dan stasiun Banjarmasin (Total Banjarmasin area 88,5 km)
Submersile Plant berada diantara stasiun Takisung dan Landing point Banyu Urip (Beach manhole).
Land cable section terdiri dari kabel tanah antara beach manhole sampai stasiun kabel Banyu Urip, Banyu Urip sampai stasiun Sukodadi, kabel tanah antara stasiun Darmo dan stasiun Rungkut (system stasiun sentral). Bagian ini disediakan oleh KDD SCC. Namun seksi antara stasiun Darmo dan stasiun Sukodadi dibangun oleh supplier lain (TELKOM ROUTE). Rute yang lain dari Banyu Urip sampai stasiun Kayun (INDOSAT) dibuat oleh INDOSAT, dan dari Kayun sampai Sentral Rungkut disebut INDOSAT ROUTE yang juga salah satu system diversity dan Surabaya Area.
Sistem 3 dicakup oleh perangkat terminal pada stasiun kabel Banyu Urip, Lamongan dan stasiun repeater darat Cerme, dan Sentral Rungkut.

IV.2.1. BAGIAN JARINGAN
Pendahuluan
Pada bagian ini merupakan bagian terpenting pada suatu jaringan. Sistem kabel laut Surabaya-Ujung Pandang-Banjarmasin terdiri atas Submarine Plant, Land Cable Plant dan terminal equipment plant. Masing-masing plant tersebut merupakan bagian jaringan.
IV.2.2. Submersibe Plant
  1. Kabel Laut
Kabel laut digunakan untuk system Srb-Up-Bjm disebut sebagai OS cable. Selain itu dirancang untuk melindungi fiber optic dari tekanan dan desakan air selama pemakaian, peletakan, penanaman, dan perbaikan (pengambilan untuk perbaikan dari dasar laut). Kabel OS ini memiliki optic yang sangat kuat, elektris dan karakteristik mesin yang tahan terhadap temperature dan kekuatan

Sejarah SKSO


Kurir Informasi Berbekal Cahaya
SERAT optik adalah sebagian kecil dari perjalanan sejarah penemuan manusia yang seolah tanpa batas. Ketika Thomas A. Edison menemukan lampu pijar, ia dikatakan telah berhasil "menangkap petir". Kini manusia tak cuma berhasil menangkap, tapi mengendalikan cahaya. Ini hanya mungkin terlaksana dengan serat optik. Sebagai kunci lalu lintas informasi, tak salah bila dikatakan, inilah kunci kekuasaan masa depan.
Sejak dahulu cahaya sudah digunakan orang untuk berkomunikasi, entah dengan obor, api unggun atau dengan pantulan cahaya matahari di cermin. Bahkan sampai sekarang pun komunikasi antara dua kapal di tengah lautan masih ada yang menggunakan bahasa isyarat Morse dengan lampu. Ketika informasi makin menjadi kekuatan, cahaya pun makin ambil peranan.
Gagasan menyalurkan cahaya lewat gelas sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Berdasarkan pengamatan selama berabad-abad, para fisikawan Jerman mengawali eksperimen transmisi cahaya mealalui bahan gelas yang bernama serat optik sekira tahun 1930-an.
Pada tahun 1958, giliran orang Inggris yang mengusulkan prototipe serat optik yang sampai sekarang dipakai, yaitu gelas inti dibungkus bahan gelas lain. Kemudian orang Jepang juga ikut mengukir prestasi. Pada awal tahun 1960-an, mereka berhasil membuat sejenis serat optik untuk mentransmisikan gambar, walaupun baru sejauh 1 m!
Kemudian ada yang coba-coba mentransmisikan cahaya dengan rangkian lensa sebagai pemandu cahaya, lalu rangkaian cermin, kemudian gas, sebelum tiba pada sistem pemandu gelombang serat optik yang sekarang.
Sementara itu, di jalur lain para ilmuwan juga mengembangkan cahaya yang bisa "dikendalikan" arahnya, seraya membuat pembangkit dan penerima cahaya (detektor). Para ilmuwan memikirkan pula pengiriman sinyal cahaya sebagai alternatif. Tapi bagaimana mungkin? Terlalu banyak yang hilang di jalan karena diserap atmosfer. Belum lagi pancaran cahaya itu bersifat menyebar, sehingga pengiriman sinyal cahaya ke tujuan tertentu menjadi sulit.
Sekitar tahun 1959, orang menemukan laser dan terjadilah terobosan besar. Gelombang yang sudah masuk dalam spektrum cahaya ini berfrekuensi sangat tinggi. Laser beroperasi pada daerah frekuensi tampak, sekira 1014-15 Hertz atau ratusan ribu kali frekuensi gelombang mikro, apalagi jika dibandingkan dengan frekuensi radio. Ia juga memungkinkan daerah frekuensi kerja yang luas.
Pada awalnya peralatan penghasil sinar laser masih serba besar dan merepotkan. Selain tidak efisien, ia baru dapat berfungsi pada suhu sangat rendah. Laser juga belum terpancar lurus. Pada kondisi cahaya sangat cerah pun, pancarannya gampang meliuk-liuk mengikuti kepadatan atmosfer. Waktu itu, sebuah pancaran laser dalam jarak 1 km, bisa tiba di tujuan akhir pada banyak titik dengan simpangan jarak hingga hitungan meter.
Berkat laser
Sekitar tahun 60-an ditemukan serat optik yang kemurniannya sangat tinggi, kurang dari 1 bagian dalam sejuta. Dalam bahasa sehari-hari artinya serat yang sangat bening dan tidak menghantar listrik ini sedemikian murninya, sehingga konon, seandainya air laut itu semurni serat optik, dengan pencahayaan cukup kita dapat menonton lalu-lalangnya penghuni dasar Samudera Pasifik.
Seperti halnya laser, serat optik pun harus melalui tahap-tahap pengembangan awal. Sebagaimana medium transmisi cahaya, ia sangat tidak efisien. Hingga tahun 1968 atau berselang dua tahun setelah serat optik pertama kali diramalkan akan menjadi pemandu cahaya, tingkat atenuasi (kehilangan)-nya masih 20 dB/km. Melalui pengembangan dalam teknologi material, serat optik mengalami pemurnian, dehidran dan lain-lain. Secara perlahan tapi pasti atenuasinya mencapai tingkat di bawah 1 dB/km.
Tahun 80-an, bendera lomba industri serat optik benar-benar sudah berkibar. Nama-nama besar di dunia pengembangan serat optik bermunculan. Charles K. Kao diakui dunia sebagai salah seorang perintis utama. Dari Jepang muncul Yasuharu Suematsu. Raksasa-raksasa elektronik macam ITT atau STL jelas punya banyak sekali peranan dalam mendalami riset-riset serat optik.
Sebenarnya bagaimanakah konsep pentransmisian informasi itu? Secara sederhana sinyal informasi apa pun mengalami proses kira-kira seperti misalnya suara pembicaraan di telefon, diubah dulu menjadi sinyal listrik. Gelombang sinyal ini kemudian diolah agar bisa diboncengkan pada gelombang pembawa. Proses memboncengkannya dinamakan proses modulasi. Setelah itu gelombang sinyal baru ditransmisikan, atau dikirim. Maka "berangkatlah" gelombang pembawa alias kurir yang diboncengi gelombang sinyal tadi.
Pada teknologi serat optik gelombang pembawanya berupa laser, sedangkan "jalan" bagi si gelombang pembawa ngebut sambil menggendong gelombang sinyal tadi adalah jaringan kabel serat optik. Di tempat tujuan, terjadi proses sebaliknya. Pertama-tama, proses demodulasi. Gelombang sinyal "diturunkan" dari boncengannya, dipisahkan dari gelombang pembawa, lalu dikembalikan lagi ke bentuk semula. Sinyal suara menjadi suara. Sinyal gambar menjadi gambar.
Di tengah perjalanan, biasanya dipasang repeater. Di sini gelombang sinyal itu dibersihkan, dipulihkan mutunya supaya sama dengan mutu sinyal asli, lalu diberangkatkan lagi.
Keunggulan paling utama tentu pada kapasitas. Dengan laser sebagai gelombang pembawa dan serat optik sebagai pemandunya, gelombang sinyal yang bisa dikirim bisa sampai ratusan ribu kali, dibandingkan dengan teknologi konvensional yang menggunakan gelombang berfrekuensi rendah melalui kawat tembaga (bisa kawat koaksial, bisa jenis kawat telepon yang ada di rumah).
Bila dengan teknologi kawat tembaga tiap 1-2 km sudah harus dibangun repeater, sistem serat optik bisa bertahan tanpa repeater hingga jarak 100 -200 km. Dibandingkan dengan kawat tembaga, dimensi serat optik sangat mungil. Kalau kawat tembaga bisa berdiameter sampai 0,5 cm, serat optik lebih kecil dari rambut. Satu serat optik berdiameter 10 ? ( (1 ? = sepersejuta m). Jika dihitung berikut cladding (pelindung), paling-paling garis tengahnya 100-250 ?m.
Setiap serat optik terdiri atas 1 pair, yaitu satu jalur penerima dan jalur pengirim. Secara teoritis, serat optik sebesar kawat tembaga bisa memuat ratusan, bahkan ribuan kawat serat optik. Namun karena dari segi kapasitas sudah lebih dari cukup, yang diproduksi sampai sekarang cukup berisi puluhan pair saja.
Menurut fisikawan Prof.Dr.Ir. Tjia May On, kalau kapasitas kawat koaksial dapat mencapai sekira 40 MegaHertz (106 Hz), maka kapasitas serat optik mencapai hitungan Giga Hertz (1012 Hz).
Dengan berat jenis kecil, instalasi serat optik jauh lebih ringan dibandingkan dengan instalasi kawat tembaga. Itu sebabnya teknologi ini disambut industri transportasi, di mana bobot mempunyai nilai ekonomis tinggi. Instalasi perkabelan sebuah pesawat terbang atau kapal selam bisa mencapai berton-ton. Dengan sistem serat optik, pengiritan bobot mati sampai sebanyak itu senilai dengan jutaan dolar AS.
Karena informasi digendong cahaya dan dipandu bahan yang bersifat isolator, komunikasi lewat sistem serat optik tidak mudah disadap. Ia kebal terhadap gangguan elektromagnetik. Kalau disandingkan dengan telefon berarti tak ada masalah crosstalk (pembicaraan ganda). Untuk kalangan bisnis, apalagi dunia militer dan keamanan, hal tersebut menjadi keunggulan utama.(Berbagai sumber/Rudi Setiadi)***