Another Source

Kamis, 02 Februari 2012

Jenis-Jenis Kabel Coaxial


Media Komunikasi


I.     Kabel
A.  Coaxial

Ada beberapa jenis kabel coaxial, yaitu :

1.   Kabel Coaxial Thinnet ( Kabel RG-58 )
Kabel Coaxial Thinnet atau Kabel RG-58 biasa disebut dengan kabel BNC, singkatan dari British Naval Connector. Sebenarnya BNC adalah nama konektor yang dipakai, bukan nama kabelnya.
Kelebihan menggunakan kabel RG-58 adalah :

·       Fleksibel, mudah dipakai untuk instalasi dalam ruangan.
·       Dapat langsung dihubungkan ke komputer menggunakan konektor BNC.
Spesifikasi teknis dari kabel ini adalah :

·       Mampu menjangkau bentangan maksimum 185 meter.
·       Impedansi Terminator 50 Ohm.
2.   Kabel Coaxial Thicknet ( Kabel RG-8 )
Kabel Coaxial Thicknet atau Kabel RG-8 adalah kabel coaxial yang dipakai untuk instalasi antar gedung, Spesifikasi kabel ini sama dengan dengan Kabel Coaxial Thinnet, hanya bentuk fisiknya lebih besar. Karena lebih besar, kabel ini dapat menampung data yang lebih banyak sehingga cocok untuk instalasi sebagai backbone jaringan.

Spesifikasi Teknis dari kabel ini adalah :
·       Mampu menjangkau bentangan maksimum 500 meter.
·       Impedansi terminator 50 Ohm.
·       Membutuhkan Transceiver sebelum dihubungkan dengan komputer.
Supaya komputer dapat terhubung ke jaringan thicknet, diperlukan transceiver. Koneksi antara Network Adapter Card dengan transceiver dibuat dengan menggunakan drop cable untuk menghubungkan Transceiver dengan Attachment Unit Interface ( AUI ) pada Network Adapter Card. Interface dari AUI berbentuk DB-15.
Bila dibandingkan antara Thicknet dengan thinnet, instalasi kabel thicknet jauh lebih sulit karena sifatnya lebih kaku dan tidak fleksibel. Tetapi melihat kapasitas data dan jarak yang bisa dijangkau, jenis kabel ini masih menjadi favorit sebagai penghubung antar gedung.

Konektor :

3.   BNC Kabel konektor
Untuk menghubungkan kabel ke T konektor.
4.   BNC T konektor
Untuk menghubungkan kabel ke komputer.
5.   BNC Barrel konektor
Untuk menyambung 2 kabel BNC.
6.   BNC Terminator
Untuk menandai akhir dari topologi bus.
Sesuai dengan kapasitas maksimal dari kabel coaxial, Ethernet
dengan media transmisi coax hanya ada satu kecepatan transfer data (10 Mbps).
Terminator yang dapat digunakan adalah terminator dengan nilai resitansi sebesar 50 OHM.
Penggunaan kabel coaxial hanya memungkinkan untuk menerapkan topologfi jaringan BUS.
Penggunaan kabel lebih dari yang disarankan sangat tidak dianjurkan karena dapat mengurangi performansi dari jaringan komputer tersebut.
Kabel ini masih digunakan sebagai segmen tulang belakang (backbone) untuk penyambung di dalam
sistem ethernet karena biayanya murah.
B.  UTP(Unshielded Twisted Pair)
Kabel UTP yang biasa digunakan adalah kabel yang terdiri dari 4 pasang kabel yang terpilin. Dari 8
buah kabel yang ada pada kabel ini, hanya digunakan 4 buah saja untuk
dapat mengirim dan menerima data (Ethernet). Perangkat lain yang berkenaan dengan penggunaan jenis
kabel ini adalah konektor kabel UTP (RJ-45) dan HUB/SWITCH.

Ada beberapa klasifikasi kabel yang digunakan untuk jaringan twisted-pair, tapi yang paling
populer adalah Category 5 (CAT 5). Masih ada beberapa klasifikasi untuk CAT 5 ini, untuk pemakaian biasa
digunakan CMR Cable. Kabel CAT 5 dijual dalam bentuk rol di dalam karton berlubang untuk memudahkan penanganannya.

Pada ujung-ujung kabel CAT 5 ini dipasangkan konektor yang dikenal sebagai konektor RJ-45 (RJ dari kata 'Registered Jack').
Konektor RJ-45 ini mirip dengan konektor pada kabel telepon (RJ-11). Bila pada kabel telepon menggunakan tiga pasang kawat, maka
kabel network ini menggunakan empat pasang.

Ada dua macam pemasangan yang menghasilkan 'Ujung A' (End A) dan 'Ujung B' (End B). Urutan pemasangan kawat pada konektor yang dikenal
sebagai End A dan End B ini pada dasarnya adalah standar EIA568A dan EIA568B. Kabel CAT 5 yang kerdua ujungnya adalah Ujung A disebut sebagai
straight-through cable (kabel langsung), sedangkan bila yang satu Ujung A dan yang lainnya Ujung B dinamakan cross-over cable (kabel silang).

Apabila ingin menghubungkan dua komputer langsung tanpa menggunakan hub dengan kabek network, maka yang diperlukan adalah cross-over cable. Hubungan komputer
dengan menggunakan hub memerlukan straight through cable. Sebenarnya pada kabel CAT 5 tidak semua kawat terpakai. Hanya kawat yang terhubung pada pin nomor 1, 2 ,3 dan 6
yang terpakai sedangkan kawat yang terhubung pada pin nomor 4, 5, 7 dan 8 tidak terpakai.

Spesifikasi Teknis dari twisted pairs adalah :
1.   Jarak terjauh 100 meter.
2.   Dihubungkan dengan konektor RJ-45.
3.   Memiliki beberapa kategori, yaitu : kategori 1, 2, 3, 4, dan 5.
4.   Masalah yang dihadapi adalah : crosstalk.
C.  Fiber Optic
Kabel fiber optik dibuat dari kaca yang dibungkus oleh pelindung dan material penguat. Fiber optik menggunakan cahaya untuk menghantar isyarat, berbeda dengan kabel tembaga yang menggunakan
sinyal elektronik. karena itu kabel jenis ini tidak terpengaruh dengan gangguan elektromagnet. Kabel fiber optik sangat sesuai digunakan di kawasan yang banyak gangguan
elektromagnet dan jarak yang jauh.

Kabel fiber optik mendukung transmisi data berkecepatan tinggi tidak sama halnya dengan kabel tembaga (UTP dab Coaxial). besarnya data yangi dapat
di transmisikan memungkinkan penggunaan komunikasi yang membutuhkan kecepatan seperti video konference. 10BaseF, 100BaseF, 1000BaseF merujuk kepada spesifikasi fiber optik
yang membawa sinyal ethernet, angka F merujuk kepada Fiber.

Connector yang selalu digunakan untuk menyambung kabel fiber optik ialah ST connector yang menyerupai BNC Connector. Namun begitu SC connector akan menjadi lebih populer
karena mudah digunakan.

Penggunaan fiber optik umumnya digunakan pada jaringan besar dan jaringan tulang punggung (backbone). Tipe ini berisi satu serat kaca tipis yang mengalirkan data dalam pulsa
cahaya. Cahaya pulsa merepresentasikan informasi digital yang dibawa melalui jaringan. Harga dan instalasi fiber optik memang mahal walaupun kini semakin turun karena itu pada umumnya
orang kemudian mengkombinasikannya dengan kabel tembaga.
II.  Tanpa Kabel (Wireless)

A.  Infra Merah
Infrared banyak digunakan pada komunikasi jarak dekat, contoh paling umum pemakaian IR adalah remote control (untuk televisi). Gelombang IR mudah dibuat, harganya murah, lebih bersifat
directional, tidak dapat menembus tembok atau benda gelap, memiliki fluktuasi daya tinggi dan dapat diinterferensi oleh cahaya matahari. Pengirim dan penerima IR menggunakan Light Emitting
Diode (LED) dan Photo Sensitive Diode (PSD).

WLAN menggunakan IR sebagai media transmisi karena IR dapat menawarkan data rate tinggi (100-an Mbps), konsumsi dayanya kecil dan harganya murah. WLAN dengan IR memiliki tiga macam teknik,
yaitu Directed Beam IR (DBIR), Diffused IR (DFIR) dan Quasi Diffused IR (QDIR).

1.   DFIR
Teknik ini memanfaatkan komunikasi melalui pantulan. Keunggulannya adalah tidak memerlukan Line Of Sight (LOS) antara pengirim dan penerima dan menciptakan portabelitas terminal. Kelemahannya adalah membutuhkan daya yang tinggi, data rate dibatasi oleh multipath, berbahaya untuk mata telanjang dan resiko interferensi pada keadaan simultan adalah tinggi.
2.   DBIR
Teknik ini menggunakan prinsip LOS, sehingga arah radiasinya harus diatur. Keunggulannya adalah konsumsi daya rendah, data rate tinggi dan tidak ada multipath. Kelemahannya adalah terminalnya harus fixed dan komunikasinya harus LOS.
3.   QDIR
Setiap terminal berkomunikasi dengan pemantul. sehingga pola radiasi harus terarah. QDIR terletak antara DFIR dan DBIR (konsumsi daya lebih kecil dari DFIR dan jangkaunnya lebih jauh dari DBIR).
B.  Gelombang Cahaya (Light Wave)
Pensinyalan optis koheren yang memakai laser bersifat unidirectional, karena masing-masing bangunan memerlukan laser & photodetektornya sendiri. Skema ini memungkinkan bandwith yang sangat lebar dengan biaya yang murah sekali.

Laser juga mudah untuk dipasang. Tidak seperti gelombang mikro, pemakaian laser tidak memerlukan ijin FCC Kekuatan laser yang berpita sempit, sekaligus merupakan kelemahannya juga.
Mengarahkan sinar laser selebar 1mm ke target yang mempunyai lebar 1mm pada jarak 500 meter memerlukan keahlian membidik. Biasanya lensa ditaruh kedalam sistem untuk sedikit melebarkan sinar.
Kerugiannya adalah sinar laser tidak dapat menembus hujan & kabut tebal, tapi laser dapat bekerja normal pada cuaca cerah.
C.  Gelombang Radio
Penggunaan RF tidak asing lagi bagi kita, contoh penggunaannya adalah pada stasiun radio, stasiun TV, telepon cordless dll. RF selalu dihadapi oleh masalah spektrum yang terbatas, sehingga
harus dipertimbangkan cara memanfaatkan spektrum secara efisien. WLAN menggunakan RF sebagai media transmisi karena jangkauannya jauh, dapat menembus tembok, mendukung teknik handoff, mendukung
mobilitas yang tinggi, meng-cover daerah jauh lebih baik dari IR dan dapat digunakan di luar ruangan. WLAN, di sini, menggunakan pita ISM dan memanfaatkan teknik spread spectrum (DS atau FH).

1.   DS adalah teknik yang memodulasi sinyal informasi secara langsung dengan kode-kode tertentu (deretan kode Pseudonoise/PN dengan satuan chip).
2.   FH adalah teknik yang memodulasi sinyal informasi dengan frekuensi yang loncat-loncat (tidak konstan). Frekuensi yang berubah-ubah ini dipilih oleh kode-kode tertentu (PN)

WLAN dengan RF memiki beberapa topologi sebagai berikut :

3.   Tersentralisasi
Nama lainnya adalah star network atau hub based. Topologi ini terdiri dari server (c) dan beberapa terminal pengguna (Gambar 4.a), di mana komunikasi antara terminal harus melalui server terlebih dahulu. Keunggulannya adalah daerah cakupan luas, transmisi relatif efisien dan desain terminal pengguna cukup sederhana karena kerumitan ada pada server. Kelemahannya adalah delay-nya besar dan jika server rusak maka jaringan tidak dapat bekerja.
4.   Terdistribusi
Dapat disebut peer to peer (Gambar 4.b), di mana semua terminal dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa memerlukan pengontrol (servers). Di sini, server diperlukan untuk mengoneksi WLAN ke LAN lain. Topologi ini dapat mendukung operasi mobile dan merupakan solusi ideal untuk jaringan ad hoc. Keunggulannya jika salah satu terminal rusak maka jaringan tetap berfungsi, delay-nya kecil dan kompleksitas perencanaan cukup minim. Kelemahannya adalah tidak memiliki unit pengontrol jaringan (kontrol daya, akses dan timing).
5.   Jaringan selular
Jaringan ini cocok untuk melayani daerah dengan cakupan luas dan operasi mobile. Jaringan ini memanfaatkan konsep microcell, teknik frequency reuse dan teknik handover. Keunggulannya adalah dapat menggabungkan keunggulan dan menghapus kelemahan dari ke dua topologi di atas. Kelemahannya adalah memiliki kompleksitas perencanaan yang tinggi (Gambar 5).
D.  Gelombang Mikro (Microwave)
Di atas 100 MHz, gelombang menjalar dengan garis lurus sehingga arahnya dapat difokuskan. Pemusatan semua energi menjadi beam kecil menggunakan antena parabola ( seperti piringan TV satelit) memberikan rasio sinyal/noise yang lebih tinggi, tapi antena yang mengirim & menerima harus diatur jaraknya. Selain itu, direksionalitas ini mengijinkan beberapa transmitter membentuk sebuah barisan untuk berkomunikasi dengan beberapa transmitter lainnya yang ada dalam barisan dengan tanpa mengalami interferensi

Karena gelombang mikro menjalar dengan garis lurus, maka bila menaranya terlalu berjauhan, bumi akan meredam gelombang tersebut (coba bayangkan link San Fransisco ke Amsterdam). Akibatnya diperlukan repeater-repeater secara periodik. Semakin tinggi menara, semakin jauh jarak yang bisa dicapainya. Jarak antara dua repeater kurang lebih akar kuadrat tinggi menara. Untuk menara dengan tinggi 100m, repeater dapat dapat berjarak 80 km.

Gelombang mikro tidak dapat menembus ruangan dengan baik. Selain itu walaupun beam dapat difokuskan dengan baik pada transmitter masih terjadi divergensi di udara. Sebagian gelombang direfraksikan ke lapisan atmosfir bawah dan memerlukan waktu sedikit lebih lamadibanding gelombang langsung. Gelombang yang mengalami delay itu dapat tiba diluar fasanya dengan gelombang langsung & sehingga menghapus signalnya. Efek ini disebut multipath fading& sering kali merupakan masalah yang serius. Efek ini ditentukan oleh cuaca & frekuensi gelombang. Sebagian operator menyediakan 10 persen saluran-salurannya dalam keadaan tidak berfungsi sebagai serep yang bisa digunakan bila multipath fading menyapu bersh sebagian pita frekuensi secara temporer.
III.                       Line Telepon
A.  Public Switched Telephone Network (PSTN)
Penggunaan layanan analog POTS (saluran telepon biasa) / PSTN dikategorikan sebagai layanan circuit-switched. Circuit-switched merupakan koneksi yang menggunakan metode WAN switching di mana physical circuit dibangun, dipelihara, dan diputuskan setiap melakukan sesi komunikasi.

Pada jaringan perusahaan telepon, circuit-switched beroperasi layaknya operasi telepon biasa. Koneksi yang dibangun dari satu lokasi kepada lokasi lain biasanya menggunakan bandwidth yang sempit. Pada saat ini, koneksi yang biasa digunakan hanya mampu memperoleh bandwidth maksimum 56Kbps.

Contoh koneksi circuit-switched yang sering ditemui dan digunakan adalah koneksi kepada ISP (Internet Service Provider) menggunakan modem analog. Meskipun modem yang digunakan mampu mencapai bandwidth 56 Kbps, biasanya koneksi dari rumah selalu di bawah bandwidth yang ditawarkan tersebut.
Jangan dulu menyalahkan pihak vendor modem tersebut, karena besarnya bandwidth yang diperoleh lebih dipengaruhi oleh jaringan telepon yang digunakan.

Salah satu keuntungan menggunakan jaringan circuit-switched adalah biaya penggunaannya yang relatif murah dan dapat dikontrol.
Teknologi ini biasanya digunakan oleh:
1.   Mobile user
2.   Telecommuter
3.   Perusahaan atau instansi sebagai koneksi cadangan
B.  Integrated Service Digital Network (ISDN)
Banyak keuntungan yang diperoleh bila komunikasi telepon, faksimil, teks, video, transmisi data, gambar dan jaringan komputer menggunakan layanan ISDN ini. Di antaranya adalah kecepatannya yang dapat mencapau 144 Kbps (Kilobit per second) atau bahkan hingga 2 Mbps (Megabit per second).

ISDN dapat digambarkan sebagai jaringan telekomunikasi melalui perombakan jaringan telepon, yang dapat melayani aplikasi suara maupun non suara seperti data, teks, citra, dan video pada satu jaringan yang sama.

Teknologi jaringan ini diprakarsai oleh H. Shimada pada suatu pertemuan CCITT tahun 1971. Kemudian, aplikasi ISDN segera terwujud setelah CCITT merekomendasikan standar Red Book (1985) dan standar Blue Book (1988) dalam wujud Narrow Band (N-ISDN).

ISDN dikembangkan dari jaringan telepon dengan mengusahakan agar tidak melakukan perubahan secara mendasar pada sentral telepon yang sudah ada. Sebab saat ini pada dasarnya jaringan telepon yang telah tersebar secara luas di dunia sudah menggunakan teknik digital pada bagian transmisi dan switching-nya.

Konsep ISDN adalah menyediakan jaringan digital antar pelanggan end-to-end (dari ujung ke ujung). Keseluruhan proses untuk komunikasi ISDN telah digital.Sedangkan pada jaringan telepon digital, terdapat bagian analog pada sisi pelanggan. Dengan menambahkan sebuah konverter dari analog ke digital (A/D) dan dari digital ke analog ke digital (D/A) peralatan analog yang dimiliki pelanggan dapat berkomunikasi melalui sentral digital, dengan cara digitalisasi pada bagian pelanggan ini maka STDI berkembang ke arah JDPT.

Untuk mengubah STDI menjadi JDPT masih perlu ditambahkan beberapa modul dan sistem pensinyalan yang mendukung. Untuk pensinyalan antar sentral telepon ditentukan pensinyalan yang disebut Common Cannel Signalling (CCS) System No.7. Dengan digitalisasi dan model pensinyalan yang baru, maka siaplah diimplementasikan konsep ISDN ini.
C.  Leased Line

1.   56K Leased Line WAN Connections
Banyak yang menyebutnya dengan sebutan layanan DS0, yang dalam hal ini adalah sebuah model layanan yang berupa sambungan yang disewa secara khusus tanpa memperhitungkan berapa banyak pemakaiannya (biaya sewa sambungan tersebut berlaku, tanpa menggunakan dasar hitungan, apakah saluran tersebut dipakai atau tidak. Bedakan dengan cara pembayaran saluran telepon biasa itu.), atau 'leased line'. Bandwidth (besaran transfer data) layanan ini adalah sebesar 56 kbps.
Untuk sebuah hubungan DS0 ini membutuhkan adanya CSU/DSU (modem digital) serta pengatur lalulintas (router) di setiap ujung sambungannya. Sebuah hubungan sebesar 56k ini merupakan kemampuan yang dua kali lebih besar dibanding dengan koneksi secara memutar nomor (dial-up connection), serta lebih memuaskan dibanding dengan layanan T-1. Banyak organisasi yang menggunakan layanan 56k ini sebagai batu pijakan untuk menuju ke layanan yang memiliki bandwidth yang lebih besar.
2.   T-1 Leased Line WAN Connections
Juga disebut dengan ustilah layanan DS1, yang merupakan model leased line pula namun dengan bandwidth sebesar 1.544 Megabits per detik. Hubungan DS1 memerlukan CSU/DSU atau modem digital, serta router di kedua ujung hubungannya.
Hubungan DS1 menawarkan kemampuan bandwidth sebesar 30 (tigapuluh) kali dibanding hubungan yang 56k, dan boleh jadi DS1-lah yang merupakan standar bagi jaringan dalam skala luas, WAN (wide-area network) dan dalam hal tersebut merupakan yang paling banyak diterapkan dalam jaringan WAN.
3.   T-3 Leased Line WAN Connections
Juga disebut layanan DS3, sebuah leased-line dengan kapasitas bandwidth sebesar 45 Megabit per detik. Hubungan DS3 tentu saja memerlukan kelengkapan-kelengkapan peralatan khusus di masing-masing ujung koneksinya, serta router kelas berat.
Hubungan DS3 memang memerlukan biaya operasi yang sangat mahal, dan biasanya hanya diterapkan pada aplikasi yang memiliki frekuensi akses yang sangat tinggi, dan menulangpunggungi aplikasi-aplikasi kritis, yang soal kecepatan menjadi pertaruhannya, seberapa besar data yang dikirimkan, maupun keseringan aksesnya.
4.   Frame Relay WAN connections
Frame relay ini digunakan berbarengan dengan layanan leased-line lainnya, misalnya sering kita jumpai istilah-istilah DS0FR dan atau DS1FR.
Secara gampang disebutkan, bahwa sebuah 'frame relay' adalah sebuah metoda untuk penerapan hubingan yang terjadi dalam suatu jarak yang sangat jauh dengan biaya yang bersaing. Di antara titik yang melakukan hubungan tersebut akan digubungkan dengan gugus Telco Frame di mana paket (data yang dikirimkan) tersebut akan dikirimkan pada tujuannya melalui sebuah fasilitas pertukaran jaringan (switched network).
D.  Satelit (VSAT)
VSAT (Very Small Aperture Terminal) adalah pilihan bagi mereka yang berada di tempat terpencil dan membutuhkan koneksi Internet dimana tidak ada infrastruktur lain seperti leased line, ADSL, ISDN, bahkan tidak juga telepon. VSAT berbentuk seperti piringan yang berukuran besar dan menghadap ke langit. Dengan peralatan ini maka sinyal digital diterima dan dikirimkan ke satelit. Satelit berfungsi sebagai penerus sinyal untuk dikirimkan ke titik lainnya di atas bumi.

Sebenarnya piringan VSAT tersebut menghadap ke sebuah satelit geostasioner. Satelit geostasioner berarti satelit tersebut selalu berada di tempat yang sama sejalan dengan perputaran bumi pada sumbunya. Satelit geostasioner mengorbit selalu pada titik yang sama di atas permukaan bumi, katakanlah di atas Monas, maka dia akan selalu berada di atas sana dan mengikuti perputaran bumi pada sumbunya.

MENGIRIM DAN MENERIMA DATA

Mendapatkan data Internet dari setelit sama saja dengan mendapatkan sinyal televisi dari satelit. Data dikirimkan oleh satelit dan diterima oleh decoder pada sisi pelanggan. Data yang diterima dan yang hendak dikirimkan melalui VSAT harus di-dekode oleh decoder terlebih dahulu. Satelit Telkom-1 menggunakan C-Band (4-6 GHz). Selain C-Band ada juga Ku-Band. Namun C-Band lebih tahan terhadap cuaca dibandingkan dengan KU-Band. Satelit ini menggunakan frekuensi yang berbeda antara menerima dan mengirim data. Intinya, frekuensi yang tinggi digunakan untuk uplink (5,925 sampai 6,425 GHz), frekuensi yang lebih rendah digunakan untuk downlink (3,7 sampai 4.2 GHz).

Sistem ini mengadopsi teknologi TDM dan TDMA. Umumnya konfigurasi VSAT adalah seperti bintang. Piringan yang ditengah disebut hub dan melayani banyak piringan lainnya yang berlokasi di tempat yang jauh. Hub berkomunikasi dengan piringan lainnya menggunakan kanal TDM dan diterima oleh semua piringan lainnya. Piringan lainnya mengirimkan data ke hub menggunakan kanal TDMA. Dengan cara ini diharapkan dapat memberikan koneksi yang baik untuk hubungan data, suara dan fax. Semua lalu lintas data harus melalui hub ini, bahkan jika suatu piringan lain hendak berhubungan dengan piringan lainnya. Hub ini mengatur semua rute data pada jaringan VSAT.

Frame TDM selalu berukuran 5.760 byte. Setiap frame memiliki 240 sub-frame. Setiap sub-frame adalah 24 byte. Panjang waktu frame tergantung pada data rate outbound yang dipilih. TDMA selalu pada 180 ms. TDMA disinkronisasi untuk memastikan bahwa kiriman data yang berasal dari stasiun yang berbeda tidak bertabrakan satu dengan yang lainnya.

Pendapat umum mengatakan bahwa koneksi dengan satelit adalah koneksi yang paling cepat. Kenyataanya adalah tidak. Waktu yang dibutuhkan dari satu titik di atas bumi ke titik lainnya melalui satelit adalah sekitar 700 milisecond, sementara leased line hanya butuh waktu sekitar 40 milisecond. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh oleh data yaitu dari bumi ke satelit dan kembali ke bumi. Satelit geostasioner sendiri berketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan bumi.

PERANGKAT

Pengguna VSAT menggunakan piringan yang lebih kecil daribada piringan hub. Bandwidth yang lebih besar menggunakan piringan yang lebih kecil, bandwidth yang lebih kecil menggunakan piringan yang lebih besar. Pada sisi pelanggan akan ada beberapa perangkat. Pertama adalah ODU (outdoor unit) dan piringan, dan kedua adalah IDU (indoor unit) yang berbentuk seperti router pada umumnya.

PRO DAN KONTRA

Keunggulan VSAT:
1.   Pemasangannya cepat.
2.   Tersedia di seluruh wilayah Indonesia.
Kekurangan VSAT:
3.   Koneksinya relatif lambat.
4.   Memakan tempat, terutama untuk piringannya.


1 komentar:

terimakasih gan
ini yang saya cari untuk tugas

makasih banget gan ijin copas :-D

Poskan Komentar