Another Source

Jumat, 03 Februari 2012

Sistem Komunikasi IDR


SISTEM KOMUNIKASI IDR

4.1       Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan teknologi di bidang telekomunikasi, maka masyarakat pengguna jasa telekomunikasi pun menginginkan layanan dalam bentuk beragam. Sistem telekomunikasi radio yang telah lebih dahulu dikenal memiliki banyak kekurangan-kekurangan  sehingga keberadaan  Sistem Komunikasi Satelit sangatlah penting untuk menutup kekurangan sistem terrestrial. Dengan berkembangnya Sistem Komunikasi Satelit daerah-daerah terpencil yang tidak dijangkau sistem terrestrial, dapat melangsungkan hubungan komunikasi.
Perkembangan teknologi dari Sistem Komunikasi Satelit sangat pesat mulai dari sistem analog menjadi sistem digital. PT Telkom pada awal beroperasinya Sistem Komunikasi Satelit menggunakan sistem analog yaitu SCPC dan sistem digital yaitu FDM-FM. Terakhir pada tahun 1992 PT Telkom mengimplementasikan sistem baru pada komunikasi satelit yaitu sistem Intermediate Data Rate (IDR), dan pada tahun 1996 sistem tersebut diaplikasikan sebagai pengganti dari sistem digital FDM-FM. Sistem IDR ini digunakan untuk menyalurkan informasi suara (telepon), gambar (televise), data, dan aplikasi lainnya seperti informasi cuaca, informasi pertambangan, maritim, militer dan sebagainya.
Sistem IDR pada suatu stasiun bumi terdiri atas susunan peralatan (perangkat) yang saling menunjang satu sama lain. Salah satu perangkat penting dalam sistem tersebut adalah modem IDR. Modem IDR merupakan tempat terjadinya proses pengubahan sinyal digital dengan format HDB-3 (High Density Bipolar-3) menjadi sinyal IF dengan modulasi QPSK dan sebaliknya. Untuk menjaga performansi modem IDR guna menghasilkan operasi poerangkat yang berkelanjutan dengan tingkat kehandalan yang tinggi dibutuhkan teknik pengoperasian yang baik.. Teknik pengoperasian  modem IDR tersebut harus terprogram dengan jelas dan mengacu kepada standar pemeliharaan yang baku sehingga kondisi perangkat  tetap bagus.

4.2       Tujuan

Adapun tujuan dari teknik pengoperasian  Modem IDR yaitu :
·         Dapat mengoperasikan Modem IDR SDH 308 melalui pengaturan parameter pada panel depan.
·         Dapat melakukan pengukuran level daya bandwidth serta melokalisir gangguan pada modem IDR melalui panel status.
·         Dapat menjelaskan sistem transmisi IDR dan parameter IDR yang perlu diketahui.

 

4.3       Umum

Sistem komunikasi IDR (Intermediate Data Rate) Digital Carrier adalah sistem komunikasi digital melalui media satelit yang sangat menunjang perkembangan telekomunikasi menuju ISDN dengan menggabungkan kanal-kanal-kanal percakapan dan kanal data ke dalam sistem yang terpadu.
Dengan sistem IDR ini, maka hubungan antara sentral digital dapat dibangun tanpa dibutuhkan lagi pengubahan signal dari analog ke digital atau sebaliknya. Hal ini masih ditambah lagi dengan keunggulan lain dari sistem digital, antara lain kestabilan kualitas karena kemampuan untuk koreksi kesalahan dan ketahanannya terhadap gangguan.
Sistem IDR pada operasi singel carrier adalah sebuah digital MCPC (Multi Carrier per Channel) yang dapat digunakan untuk transmisi digital melalui satelit dengan bit rate tetap maupun variabel. Pengaturan operasi IDR dapat dilakukan secara lokal atau remore.
Masukan sistem IDR adalah data digital berupa data yang tidak diproses ataupun data yang telah diproses, data yang tidak diproses ini antara lain:
Ø  PCM 64 Kbps (30 ch)
Ø  ADPCM 32 Kbps (60 ch)
Ø  Signal 2 Mbps dari STDI
Ø  Data komunikasi komputer

Data digital yang telah diproses adalah pada penggunaan:
Ø  Digital Circuit Multiplication Equipment (DCME) yang meliputi: Digital Speech Interpolation (DSI), STDMA dan jenis jenis multiplexer lainnya.
Ø  Digital Signal processing lainnya seperti:  data Encryption dan sebagainya.

4.3.1  Konfigurasi Sistem IDR

            Sistem IDR yang akan dipasang pada suatu stasiun bumi akan terdiri atas susunan peralatan sebagaimana ditunjukkan pada gambar   di bawah ini:
Gambar  4.1.  Konfigurasi Sistem IDR

   Keterangan:
   PCM MUX     : Pulse Code Modulation Multiplexer
   E/C                  : Digital Echo Cancellar
   MX                  : Multiplication Equipment, ADPCM atau PCME
   HPA                : High Powe Amplifier
   LNA                : Low Noise Amplifier
   DPL                : Duplexer





Fungsi masing-masing bagian adalah sbb:
   Multiplication equipment
Adalah perangkat yang berfungsi untuk melipatkan kemampuan transmisi peralatan tanpa memperlebar band frekuensi. Berdasarkan teknik-teknik kompresi data, signal voice dapat diturunkan kecepatan datanya menjadi separuh atau lebih kecil lagi.

            Echo Cancellar
Untuk mengatasi gangguan yang muncul apabila terjadi pemantulan signal percakapan di salah satu ujung terminal kominikasi yang biasa kita kenal sebagai echo/gema, maka diperlukan suatu perangklat yang dapat menghilangkan echo tercebut. Mengingat bahwa dengan panjangnya jarak tempuh signal informasi tersebut setelah melalui satelit, echo yang telah terjadi akan culup menggagu percakapan.
Perangkat ini bekerja dengan prinsip pengolahan signal digital, dan langsung bekerja pada kanal yang terisi pada signal PCM 30 kanal.

            Modem IDR
Modem IDR yang berfungsi untuk meletakkan signal informasi digital yang berasal dari sentral pada signal pembawa (frekuensi carrier) dengan modulasi QPSK dan sebaliknya. Signal pembawa akan  berada pada daerah frekuensi 50 MHz-90 Mhz bergantung pada pemilihan daerah operasinya.

            Up/Down Converter
Karena daerah operasi satelit berada pada band frekuensi 4 GHz/6 GHz, sedangkan modem IDR hanya menghasilkan signal frekuensi 50-9 MHz, Maka diperlukan perangkat penggeser frekuensi yang kita kenal sebagai Up/Down Converter.
Up Converter berfungsi untuk menggeser frekuensi signal IDR dari daerah 50-90 MHz ke daerah 6 GHz, sedangkan Down Converter berfungsi mengeser signal 4 GHz dari satelit ke frekuensi 50-90 MHz.

   HPA (High Power Amplifier)
Untuk mengatasi redaman yang timbul akibat besarnya jarak dari bumi ke satelit, maka diperlukan adamya penguat signal yang keluar dari Up Converter sehingga dapat mengkopensasikan kehilangan daya pancar di dalam perjalanannya.

   LNA (Low Noise Amplifier)
Signal yang diterima dari satelit levelnya sudah jauh berkurang, oleh karena itu diperlukan penguat di ujung penerima signal stasiun bumi.

   Antena
Untuk lebih dapat mempertajam penerimaan dan juga mengurangi gangguan dari sateli lain, maka diperlukan adanya antena yang akan mengarahkan pancaran gelombang dan penerimaannya ke satelit yang dikehendaki.






4.3.2  Parameter-Parameter Transmisi IDR
         Ada beberapa parameter yang digunakan dalam sistem IDR, antara lain adalah senagai berikut:
·         Kecepatan bit data/informasi (information rate dalam satuan bit per second disingkat dengan IR) adalah antara 64 kbps s/d 44.736 Kbps. ( pilihan IR adalah 64, 192, 384, 1544, 2048, 6312, 8448, 34368, 44736 Kbps)
·         Kecepatan bit tambahan (Overhead Datarate untuk carrier) untuk IR 1544 Kbps adalah sebesar 96 Kbps.
·         Pengkodean FEC (Forward Error Correction Encoding) adalah ¾ Convolutional Encoding/Viterbi Decoding.
·         Energi Dispersial (Scrambling sesuai dengan CCITT V.35)
·         Sistem modulasi menggunakan QPSK Ambigity resolution yang berupa kombinasi antara Differential Encoding (180° ) dengan FEC (90° ).
·         Penerimaan clock dari penerimaan data.
·         Alokasi Bandwidth Carrier minimum sebesar:
                        BWC = 0,7 R Hz atau
                        BWc = 0,933 (IR + Overhead) Hz











Dimana:
R = Kecepatan bit pentransmisian dalam bit/s (bps)
R + (IR+OH) × 4/3 (untuk FEC ¾)
·         Bandwidth Noise adalah sebesar:
·         BWn = 0,6 R Hz
·         BWn = 0,8 (IR + OH)
·         Eb/No untuk kecepatan dengan FEC ¾ sesuai dengan tabel dibawah ini:
Eb/No pada
BER

10 -3
10 -7
10 -8
Modem Back to back channel
5.3 dB
8.3 dB
8.8 dB
Satelit
5.7 dB
8.7 dB
9.2 dB

Tabel 4.1. Eb/No

·         Besarnya C/T pada titik operasi nominal dirumuskan sebagai berikut :
            C/T = -219,9 + 10 log (IR + OH) dBw/ °K
·         Besarnya C/N pada titik operasi nimonal adalah sebesar 9,7 dB.
·         Besarnya Bit Error Rate (BER) titik nominal adalah 1 × 10 -7
·         Besarnya C/N pada titik ambang (thershold) adalah sebesar 6,7 dB. 
·         Besarnya Bit Error Rate (BER) pada titik ambang adalah 1 × 10 -3

4.4       Modem IDR

            Modem IDR adalah perangkat yang berfungsi mengubah sinyal digital base band dari perangkat tail link ke dalam bentuk sinyal IF yang dapat ditransmisikan melalui transmisi satelit, serta mengubah kembali sinyal IF dari transmisi satelit ke dalam bentuk sinyal digital baseband untuk dikirim ke perangkat tail link.
Sinyal digital baseband dari dan ke peralatan tail link pada umumnya mempunyai format HDB-3 (High Density Bipolar 3), sedangkan sinyal IF dari dan ke perangkat transmisi satelit adalah sinyal 70 MHz dengan modulasi QPSK (Quadrature Phase Shift Keying).

4.4.1    Standart-Standart yang Digunakan dalam Sistem Telekomunikasi IDR.   
Di dalam operasinya, sistem telekomunikasi IDR menggunakan standart yang telah digunakan oleh banyak negara yaitu IESS (Intelsat Eart Station Standards) dokumen IESS -308.
Di dalam dokumen IESS-308 tersebut dijelaskan persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk perangkat-perangkat stasiun bumi yang beroperasi dalam sistem transmisi IDR digital carrier .
Berikut ini, akan dijelaskan secara singkat standar-standar dalam dokumen IESS-308 yang behubungan dengan Modem IDR.
·         Jenis Modulasi yang digunakan adalah  QPSK koheren dengan menggunakan  FEC (Forward Error Correction ) rate ¾ . FEC yang digunakan adalah Convolution Enconding dengan Viterbi  Decoding.
·         Kecepatan informasi (information rate) yang ditranmisikan mulai dari 64 Kbps sampai dengan 44.376 Mbps.
·         Pada kecepatan informasi 1.544, 2.048, 6.132, 8.448, 32.064, 34.368 dan 44.376 Mbps, INTELSAT telah mendefinisikan suatu Overhead  Framing yang akan memberikan fasilitas ESC (Engineering SeService Circuit) dan Maintanacce Alarm.
Overhead Framing akan menambah kecepatan data sebesar 96 Kbps dari kecepatan informasi yang ditransmisikan (dokumen IESS-308 Rev.4)
·         Spektrum keluaran modulator QPSK harus berada dalam mask.
·         Demodulatsi QPSK yang digunakan pada demodulator adalah jenis modulasi koheren dengan karakteristik filter demodulator masuk ke dalam mask.
·         FEC coding pada rate ¾ adalah dari jenis Puncture Type convolutional Encoder.
·         FEC decoding yang digunakan adalah dari jenis Soft Decision Viterbi Deconding yang harus mempunyai coding gain cukup besar untuk Eb/No yang dipersyaratkan.
·         Untuk mengurangi maximum power flux density dalam transmisi, digunakan teknik scrambling sebagaimana dipersyaratkan dalam CCITT  Rec.V.35. Jenis scrambling yang dipergunakan adalah jenis Self Synchronizing Scrambler.
·         Demodulator yang digunakan dipersyaratkan harus memenuhi kriteria BER (Bit Error Rate) sebagai berikut:
            BER lebih baik dari:               Pada Eb/No (dB)
                        10 -3                                         5.3
                                    10 -7                                         8.3
                                    10 -8                                           8.8

4.4.2 Besaran-Besaran Penting dalam Operasi Modem IDR
§  C/N
Adalah perbandingan antara daya carrier dan daya noise. Besaran ini menunjukkan kualitas dari sinya RF/ IF yang diterima oleh modem.

§  Eb/No
Adalah perbandingan antara energi per bit (Watt.detik) denagn rapat daya noise (Watt/Hz). Besaran ini juga menunjukkan kualitas dari sinyal RF/IF yang diterima oleh modem, tetapi ada unsur lain yang mempengaruhi besaran Eb/No ini yaitu :
1.      Kecepatan transmisi data
2.      Noise Bandwidth dari modulator

§  Coding Gain
Adalah ukuran performansi FEC coding decoding yang akan menghasilkan besaran BER yang setara dengan sistem tanpa FEC coding decoding tetapi dinaikkan C/N nya sebesar coding gain tersebut.
§  FEC Rate/Code Rate
Adalah perbandingan antara jumlah bit informasi dengan jumlah bit yang ditransmisikan sebagai contoh : FEC rate = ¾, berarti dalam 4 bit yang ditransmisikan mengandung 3 bit informasi.

§  BER ( Bit Error Rate)
Adalah perbandingan antara banyaknya data salah yang diterima dengan jumlah data yang diterima seluruhnya. Sebagai contoh: BER  10-3  berarti terdapat 1 bit data yang salah dalam 1000 bit data yang diterima.

§  Information Rate
Adalah banyaknya bit informasi yang ditransmisikan dalam satu detik. Sebagai contoh : Information Rate dari satu sistem PCM orde I (30 kanal PCM) adalah 2.048 Bit per detik.

§  Transmision Rate
Adalah banyaknya bit yang ditransmisikan dalam satu detik. Bit yang ditransmisikan dalam hal ini adalah (bit informasi + bit overhead) × 1/FEC. Sebagai contoh : jika digunakan transmisi IDR Rev.4, information Rate = 2.048 Mbps =2.048 Kbps, FEC = ¾ maka :
      TR = (2048 Kbps + 96 Kbps ) × 4/3 = 2858.667 Kbps.

§  Symbol Rate
Adalah banyaknya simbol keluaran modulator per detik. Pada jenis moddulasi QPSK, 1 simbol mewakili 2 bit yang ditransmisikan, sehingga simbol rate QPSK = ½  × transmision rate.

§  Noise Bandwidth
Adalah bandwidth dari sebuah filter ideal yang akan menghasilkan daya noise equivalen dengan daya noise keluaran filter pada demodulator.
§  Buffer Size
Adalah besarnya kapasitas doppler buffer untuk mengantisipasi perubahan jarak satelit ke bumi. Besaran ini dinyatakan dalam satuan milisecond.

4.5    Teori Kerja Modem IDR

4.5.1    Modulasi Digital

Sebelum suatu sinyal digital ditransmisikan melalui transmisi satelit, maka terlebih dahulu disisi pengirim sinyal digital tersebut harus diubah dahulu menjadi sinyal yang sesuai untuk ditransmisikan ke arah satelit. Sedangkan di sisi penerima sinyal dari transmisi satelit tersebut diubah kembali menjadi sinyal digital.
Proses pengubahan dari sinyal digital menjadi sinyal transmisi disebut proses modulasi digital, sedangkan proses pengubahan sinyal transmisi menjadi sinyal digital disebut peroses demodulasi digital.
Salah satu proses modulasi atau demodulasi digital yang berkaitan dengan sistem IDR yaitu modulasi QPSK. Modulasi QPSK dilakukan dengan mengubah-ubah phase gelombang pembawa (carrier) dalam empat yang masing-masing berselisih fasa 90° . Dengan demikian, pada suatu saat tertentu gelombang pembawa tersebut akan memiliki empat kemungkinan harga fasa yaitu 0° ,90° , 180° atau 270°. Setiap kemungkinan fasa akan mewakili data dua bit.
Setiap kemingkinan fasa yang mewakili dua bit data tersebut disebut simbol keluaran modulator (2 bit = 1 simbol). Jika kedua bit data yang akan ditransmisikan tersebut dunyatakan dalam bentuk data P dan data Q. Data P dan data Q dalam hal ini bersifat paralel. Hubungan antara data P, data Q, dan fasa gelombang pembawa diperlihatkan pada tabel berikut ini.

Bit yang akan dikirimkan
Simbol keluaran modulator (fasa carrier)
P
Q
1
1
0
1
90°
0
0
180°
1
0
270°
Tabel 4.2. Hubungan antara data P, data Q & fasa gelombang pembawa

4.5.2    FEC Coding dan Teknik Scrambling
Pada transmisi, satelit ada pembatasan daya yang dipancarkan dari satu stasiun bumi ke satelit agar tidak terjadi saturasi di transponder satelit. Oleh karena itu daya masing-masing carrier dibatasi sedemikian rupa sehingga transmisi IDR akan bekerja pada rasio C/N yang rendah. Konsekuensi logis dari C/N yang rendah tersebut adalah BER (bit error rate) data yang diterima dipenerima akan tinggi.  
Untuk mengatasi kesalahan tersebut dugunakan suatu teknik untuk mengurangi kesalahan data dalam transmisi. Teknik tersebut dinamakan Forward Error Correction (FEC).
Dalam transmisi satelit, disamping adanya pembatasan daya ada juga pembatasan rapat daya fluksi maksimum yang boleh dipancarkan ke satelit. Pembatasan rapat daya fluksi maksimum ini dimaksudkan untuk mengurangi efek intermodulasi antara beberapa carrier yang ada dalam satu transponder.
Untuk memenuhi pembatasan rapat daya fluksi maksimum ini maka digunakan teknik disperial (scrambling) yang akan mengacak data sebelum ditransmisikan. Pengacakan data ini akan membuat data yang ditransmisikan mempunyai karakteristik pseode random, sehingga spectrum keluaran modulator menjadi lebih merata.

q Forward Error Corection (FEC)
Teknik Forward Error Corection dilakukan di dua sisi pengirim dan sisi penerima. Pada sisi penerima, data yang akan dikirimkan diproses oleh encoder untuk disisipi bit-bit koreksi. Kemudian setelah ditransmisikan, data yang diterimaakan diproses oleh decoder untuk dikoreksi kesalahan-kesalahan bit akibat transmisinya.
Pemprosesan oleh decoder dilakukan dengan menggunakan Algaritma Viterbi yang bekerjanya berdasarkan bit – bit koreksi yang telah disisipkan di encoder, sehingga disebut Viterbi Decoder.
Kesalahan-kesalahan data yang diterima sebelum dikoreksi oleh decoder menghasilkan parameter BER yang disebut “Raw BER”. Sedangkan kesalahan-kesalahan data yang sudah diproses dengan menggunakan Soft Decision Viterbi Decoding akan menghasilkan parameter BER yang disebut “Corrected BER”. Besaran Corrected BER ini memiliki harga yang lebih rendah daripada Raw BER karena proses decoding dapat mengoreksi sebagian kesalahan-kesalahan bit yang diterima dari transmisi.
Sudah tentu keuntungan yang diperoleh dari penggunaan FEC akan diimbangi dengan kerugian di sisi lain yaitu penambahan kecepatan transmisi. Dengan kata lain, bandwidth transmisi akan menjadi lebih besar.
Penambahan kecepatan transmisi ini disebabkan oleh adanya penyisipan bit-bit koreksi yang dilakukan oleh encoder. Kerugian dalam hal penambahan bandwidth transmisi ini dapat diterima mengingat keterbatasan daya pada trnamsisi satelit lebih dominan, sehingga teknik FEC telah menjadi standar di INTELSAT dengan rate ½ dan ¾.

q Scrambling
Jenis scrambling yang digunakan adalah jenis “Self Synchronizing Scrambler”. Kelebihan dari scrambel jenis ini adalah bahwa tidak perlu mensinkronkan descramble di sisi penerima dengan scrambler di sisi pengirim. Secara otomatis descrambler akan mensinkronkan dirinya seiring dengan masuknya data.
Kelemahan Scrambler/Descrambler jenis ini adalah bahwa suatu bit yang diterima sala akan menghasilkan tiga bit salah sepanjang interval20 bit. Oleh karena itu scrambler pada sisi oenerima harus diletakkan setela Viterbi Decoder, hal ini dimaksudkan agar pasangan Scrambler-Descrambler akan bekerja pada BER yang rendah.
4.5.3    Kecepatan Transmisi Data dan Transmission Level framing
INTELSAT memberikan standar bermacam-macam kecepatan data untuk transmisi IDR, dimana standar kecepatan data yang akan digunakan tergantung dari kebutuhan transmisi dan alokasi bandwidth yang tersedia.


q Kecepatan Transmisi Data
Kecepatan data yang masuk ke modem disebut Information Rate (IR). Setelah disisipi dengan Overhead bit  untuk fasilitas Engineering Service Circuit (ESC), maka akan diperoleh kecepatan data yang disebut Composite Rate (CR). Data yang telah disisipi overhead bit tersebut kemudian diproses oleh scrambler dengan kecepatan tetap (tidak beribah dari CR). Selanjutnya data diproses oleh FEC encoder menghasilkan data dengan kecepatan:
CR ´ 1/Code Rate = Transmission Rate (R)
Data dengan kecepatan R bit/det tersebut kemudian oleh modulator diproses menjadi sinyal QPSK dengan satuan kecepatan Syimbol Rate (SR) yang besarnya adalah R/2 bit/det.
Lebar spectrum sinyal QPSK keluaran modulator menduduki lebar pita transponder kira-kira sebesar:
0.6 ´ R Hz
Lebar spectrum yang diduduki tersebut dinamakan Occupid Bandwidth (BW).
Setelah melalui perangkat Up Converter, HPA, antenna, dan ditransmisikan ke satelit, kemudian diterima kembali di sis penerima di Antena, LNA, down converter, dan modem IDR. Pada sisi penerima perubahan kecepatan yang terjadi berlangsung dengan urutan yang berlawanan dengan perubahan data di sisi pengirim. Proses perubahan kecepatan data yang terjadi dalam modem IDR secara jelas digambarkan dalam gambar berikut ini:

Gambar 4.2. Blok Diagram Perubahan Kecepatan Data pada Modem IDR


            Keterangan:
            IR (Information Rate)             :           Bit rate masukan modem
            CR (Composite Rate)             :           IR + Overhead Rate
            TR (transmision Rate)             :           CR/C
            C (Code rate)                          :           ¾ (untuk semua jenis transmisi IDR)
            SR (Symbol Rate)                   :           R/2
            BW(cc) (Occupied BW)         :           0,6 ´ R
BW(all) (Allocated BW)         :           0,7 ´ R

q Transmission Level Framing
Untuk Information Rate 1.544 Mbps ke atas ditambahkan Overhead bit dengan Overhead Rate 96 Kbps. Penambahan Overhead tersebut dimaksudkan untuk menyediakan fasilitas Engineering Service Circuit (order wire).
Adapun penambahan overhead tersebut dilakukan dengan cara menambahkan data dengan kecepatan 96 Kbps secara sinkron dengan informasi yang akan dikirimkan, artinya dalam penyisipan Overhead tidak perlu melihat isi informasi tersebut, sehingga informasi yang akan dikirimkan dapat berupa data random. Struktur Overhead Framing diturunkan dari penambahan 12 bit  Overhead setiap 125 ms sehingga menghasilkan Overhead Rate 96 Kbps. Alokasi 12 Overhead tersebut adalah sbb:
q 4 bit digunakan untuk Frame dan Multiframe Aligment, Backward Alarm dan Digital ESC data dengan kecepatan total = 4 bit/ 125 ms = 32 Kbps.
q 8 bit digunakan untuk mengirimkan 2 ´ 32 Kbps ADPCM Voice Channel, total 64 Kbps.

 

4.6       Operasi Modem IDR

4.6.1     Peralatan yang Digunakan dalam Pengoperasian Modem IDR

q  Modul Modem IDR SDM 308 B EF DATA
q  Power Supply
q  Connector
Digunakan untuk menghubungkan modem IDR dengan coaxial cable (ketika mengadakan pengukuran).
q  Pad
q  Combiner/Devider
Digunakan untuk menghubungkan sebuah Up converter dengan beberapa Modem IDR.
q  Grounding tangan
Digunakan sebagai pengaman oleh teknisi  ketika memegang atau mengganti modul-modul dalam modem IDR
q  Coaxial cable
Digunakan untuk menghubungkan modem IDR dengan spektrum analyzer.
q  Spectrum Analyzer
Spectrun Analyzer berfungsi untuk:
·   Memonitor frekuensi carrier, untuk mengukur (mengetahui) C/N (amplitudo sinyal carrier) dan lebar band (span) carrier.
·   Mengukur output modem IDR  yang berupa sinyal IF
·   Dan lain-lain
Menghidupkan spektrun analyzer:
·         On-kan spektrum analyzer
·         Tunggu beberapa saat sampai inisialisasi selesai
·   Setting span, level amplitudo, BW, Video BW, time sweep, log/div, sampai muncul daerah frekuensi RF/IF.
·   Setiap selesai memasukkan nilai parameter tersebut, tekan enter.
·   Hubungkan kabel IF dari modem ke spektrum analyzer atau kabel RF ke spekrum analyzer.
·   Setting frekuensi RF/IF yang akan diamati lalu tekan enter.
·   Bila frekuensi yang diamati belum muncul, ubah parameter-parameter pada point 3 dengan menekan parameter yang dimaksud, lalu tekan tanah panah atas atau bawah

Mematikan spektrum analyzer:
·         Cabut kabel RF/IF dari spektrum analyzer
·         Off-kan power spektrum analyzer.

 


4.6.2        Modul Modul Modem IDR

Gambar 4.3. Modem IDR SDM-308B EF Data (Panel Depan Terbuka)



Modem SDM-308B EF Data terdiri dari :
q  Modul Modulator
q  Modul Viterbi Decoder fan Demodulator Processor
q  Modul Demodulator
q  Modul Monitor dan Control
q  Drop/Insert atau Channel Interface
q  Power Supply

Gambar 4.4 Panel Depan Modem IDR SDM-308 B EF Data

Pada bagian panel depan (front panel) terdapat :
q  LCD Display
q  6 tombol Keypad
q  4 LED indicator STATUS
q  LED indicator FAULTS

q  LCD Display
Berfungsi untuk menampilkan parameter-parameter yang ada di dalam Modem IDR. LCD ini dapat menampilkan karakter sebanyak sebanyak 2 baris yang masing-masing baris berisi 16 karakter.

q  Tombol Keypad
Berfungsi untuk melakukan perubahan atau melihat parameter-parameter Modem yang digunakan.



q  Indikator Status
Berfungsi untuk menunjukkan kondisi operasi Modem . Indikator ini terdiri 4 buah LED (Light Emiting Dioda) sebagai berikut :
§  POWER ON
Menunjukkan bahwa Modem IDR dalam keadaan hidup.
§  TRANSMITTER  ON (hijau)
Jika LED menyala berarti bagian dalam Modem Modulator mengeluarkan sinyal IF QPSK.
§  CARRIER DATECT (hijau)
Menyatakan kondisi sedang menerima sinyal IF QPSK. Jika LED menyala, berarti Demodulator mendeteksi sinyal QPSK dengan format yang benar.
§  TEST MODE
Menyatakan bahwa modem tidak berada dalam kondisi operasi jika LED menyala berkedap-kedip, yaitu dalam kondisi “loopback”, “2047 PRG ON, dan “CW  mode”.

q  Indikator Fault
Berfungsi untuk menunjukkan kondisi fault dari modem. Indikator ini terdiri dari 4 buah LED sebagai berikut :




§  TRANSMIT (merah)
Menyatakan ada suatu kesalahan pada bagian Modulator dan Interface Tx.
§  RECEIVE  (merah)
Menyatakan ada suatu kesalahn pada bagian Demodulator, Viterbi Decoder, atau tidak ada sinyal RF yang diterima Interface Rx
§  COMMON (merah)
Menyatakan ada suatu kesalahan pada perangkat Common Equipment, termasuk Battery back-up, Supply –12 VCD, +5 VCD, M&C, atau interface modul.
§  STORED (kuning)
Menyatakan adanya suatu kesalahan yang pernah terjadi atau tersimpan dalam memory modem, ditandai dengan LED yang menyala berkedap-kedip.
Keterangan :
IF OUT          :           (BNC) dihubungkan dengan Up Converter
IF IN             :           (BNC)dihubungkan dengan Down Converter
FAULT          :           DB9(J7) menyatakan sinyal-sinyal Fault untuk :
MODULATOR
DEMODULATOR
COMMON EQUIPMENT
REMOTE        :           DB9(J0) saluran untuk mengatur modem secara  remote.
DATA             :           DB50 port untuk berhubungan dengan perangkat terestrial  
Modem IDR menerima sinyal dari perangkat terestrial misalnya Echo Cancellar atau Multiplication Equipment, jika jarak antara modem dan perangkat terrestrial cukup jauh, maka diperlukan repeater.

4.6.3    Mengatur Konfigurasi IDR
Seluruh pengaturan parameter-parameter operasi dilakukan dengan tombol-tombol yang ada di panel depan, tidak ada setting yang dilakukan dengan aligment atau pengaturan-pengaturan secara manual terhadap komponen.
Menu-menu pengaturan parameter operasi modem semua dapat dilihat pada Display yang terletak di depan panel. Menu-menu tersebut dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu :
q  Menu pengubah parameter (programmable), yaitu:
§  Menu CONFIG
§  Menu UTILITY
q  Menu-menu yang hanya dapat dilihat saja (View Only), yaitu :
§  Menu MONITOR
§  Menu FAULTS
§  Menu STORED FAULTS

A.  Mengoperasikan Tombol Front Panel
      Tombol-tombol depan terdiri dari 6 tombol yang masing-masing memiliki fungsi sebagai berikut :
   TOMBOL ENTER
Dipergunakan untuk memilih display menu, mengubah parameter lama dengan parameter yang tertera di display.

   TOMBOL CLEAR
Dipergunakan untuk membatalkan parameter operasi sebelum ditekan tombol ENTER, pindah kemenu di atasnya ( induk menu dari menu yang tertera di LCD display )

TOMBOL KANAN KIRI
Untuk pindah pada bagian menu yang setingkat, dan menggerakkan posisi Cursor untuk tujuan tertentu.


TOMBOL ATAS BAWAH
Untuk mengubah angka parameter konfigurasi, juga untuk pindah kemenu pilihan yang lain.



B.  Mode Operasi yang Penting
q  CW MODE (Continous Wave Mode)
CW Mode memiliki 3 Mode, yakni :
·         Center Mode
·         Dual Mode
·         Offset Mode

   Center Mode
Membangkitkan Clean Carrier di IF OUT pada frekuensi modulator yang dipilih. Mode ini dapat dipergunakan untuk mengukur level daya keluaran modulatur dan ketetapan frekuensinya.

Dual Mode
Membangkitkan sinyal Carrier di dua side Band yang jaraknya 1/2 Symbol Rate dari Center Frequency. Mode ini dipergunakan untuk pengetesan keseimbangan kanal dari carrier Null.

Offset Mode
Membangkitkan sinyal Carrier yang jaraknya ¼ Symbol Rate frequency. Mode ini dipergunakan untuk memeriksa ketepatan Quadrature Carrier dari modulator.



q  LOOP BACK MODE
Digunakan untuk melakukan pengecheckan pada perangkat apabila terjadi trouble (gangguan) yaitu dengan cara mengembalikan kembali sinyal dari sisi up link ke sisi down link. 
Loopback mode memiliki 4 mode, yaitu:

·         Baseband Loopback
Yaitu pengetesan yang dilakukan pada titik antara modem dan tail link. Dalam hal ini sinyal baseband dari arah sentral dengan baseband sisi lawan.
·         Interface Loopback
Yaitu pengetesan yang dilakukan pada perangkat modem IDR itu sendiri untuk memeriksa ada tidaknya kerusakan pada interfacenya.
·         IF Loopback
Yaitu pengetesan yang dilakukan pada titik antara Up Converter dan Down Coverter dengan modem, dengan tujuan untuk melihat keadaan atau kondisi Up/Down Converter dan modem itu sendiri, apakah terjadi ganggan atau tidak.
·         RF Loopback
Yaitu memiliki fungsi pengetes semua yang ada di stasiun bumi dan sentral trunk dengan mengembalikan  sinyal transmit yang dipancarkan ke stasiun bumi. Syaratnya adalah, modem memiliki frekuensi transmit dan receive yang sama. Oleh sebab itu, harus menduduki transponder yang sama di satelit dengan polarisasi yang sama pula.


4.6.4    Menghidupkan dan Mematikan Modem IDR SDM 308 B EF DATA

Menghidupkan
1.      On-kan power modem, tunggu beberapa saat sampai proses inisialisasi selesai.
2.      Ubah parameter modem sesuai dengan mode operasi yang diinginkan.
3.      Setelah seluruh parameter sudah sesuai, untuk mengaktifkan output modem . ubah parameter RF out dari OFFmenjadi ON (Indikator Transmitter ON menyala).
4.      Amati lenel carrier kirim, perubahan level dapat dilakukan dengan mengubah nilai parameter Tx power.
5.      Amati level terima, jika akan melakukan perubahan koordinasikan dengan dstasiun bumi lawan.
6.      Lakukan loopback untuk meyakinkan status perangkat siap operasi.

Mematikan
1.      OFF-kan output modem dengan mengubah parameter RF out dari On menjadi OFFdan Indikator Transmitter ON tidak menyala.
2.      Kemudian OFF-kan
           
4.6.5    Melokalisir Gangguan Modem IDR melalui Front Depan (Indikasi Alarm/ Faults)
            Indikasi ini ditandai dengan adanya lampu merah menyala di depan Front Panel (Panel Depan). Pada dasarnya ada 3 indikasi alarm yang tampak pada Front Panel


q  TRANSMIT
Cara mengatasinya:
1.      Cek terlebih dahulu carrier frekuensi transmit dan receive di tingkat RF pada spektrum analyzer.
2.      Cek apakah RF out ON atau OFF yang terdapat pada Front Panel modemnya.
3.      Cek Eb/No ada atau tidak (distandarkan 7-12 dB)
4.      Lakukan loopback IF.
5.      Apabila frekuensi transmit dengan frekuensi receive berada pada transponder dengan polarisasi yang sama maka yang dilakukan adalah loopback IF.
6.      Apabila indikasi alarm masih ada, lakukan loopback di DDF.
7.      Jika memang alarmnya hilang, maka kita tidak dapat inputkan 2 Mbits dari sentral.
  
q  RECEIVE
Cara mengatasinya :
1.      Check terlebih dahulu carrier frekuensi transmit dan receive di tingkat RF  pada spektrum analyzernya.
2.      Check apakah lampu indikasi receive (ON/OFF)
3.      Check Eb/No (ON/OFF) distandarkan 7-12 dB.
4.      Lakukan Loopback RF pada modem yang frekuensi transmit dan receivenya  berada pada transponder dan polarisasi yang sama.
5.      Lakukan loopback IF.
6.      Bila indikasinya telah normal berarti sinyal  dari lawan tidak kita terima.(Check Down Converter khususnya IF frekuensi).


q  COMMON
Cara mengatasinya:
1.      Check status fault pada indikasi “ceq Stlfo”.
Disitu akan diketahui bahwa dimana kerusakan itu terjadi (battery/controller/interface)







0 komentar:

Posting Komentar