Another Source

Senin, 06 Februari 2012

Konfigurasi SKRGM



1. Framing Unit

Terminal framing (BVK-301)








*Prinsip Kerja
Melalui D/A konverter sinyal digital X dan Yyang berasal dari digital filter dirubah menjadi sinyal analog empat level untuk mendapatkan hasil modulasi modulasi 16 QAM. Sinyal analog ini kemudian dimasukkan ke dalam analog filter yang berfungsi untuk menghaluskan bentuk spektrum dari sinyal analog tersebut.
Sebelum dimasukkan ke modulator sinyal X dan Y masing-masing dikuatkan pada sebuah amplifier yang bertujuan agar kedua sinyal tersebut dalm kondisi balance. Untuk mendapatkan kondisi ini dapat dilakukan dengan mengatur R608 dan R705 yang terdapat dipanel depan modul ini.
Sinyal X dan Y  yang telah melewati penguat kemudian dimasukkan pada modulator SHF, sinyal X dan Y ini kemudian digunakan untuk memodulasi secara langsung sinyal carrier dengan band 6.4 – 7.1 GHz.
Sinyal clock yang berasal dari framing unit (37MHz) digunakan sebagai pengontrol phase dari sebuah VCXO yang akan membangkitkan sinyal clock 2 kali dari clock inputnya (74MHz), kemudian sinyal clock ini akan digunakan untuk melakukan kuantisasi terhadap sinyal X dan Y pada proses D/A converter.


2. Transmitter





*Spesifikasi elektrik
Ø  Digital input rate                            : 37.147 Mbps
Ø  Output sinyal SHF pada J01
·         Level                                       : - 14 dBm
·         Frekuensi                                : 6.4 – 7.1 GHz
·         Impedansi                               : 50 Ohm
Ø  Test point TP01                            : 1.6 Volt
*      Prinsip kerja Transmitter
Empat stream sinyal digital P,Q,R,S dan clock dari freaming unit diproses melalui digital processor yang dilengkapi dengan rangkaian digital filter. Output dari digital processor ini adalah sinyal X yang bertalian dengan phase (inphase) dan sinyal Y yang bertalian dengan seperempat phase (inquadrature). Kemudian sinyal X danY tersebut dimasukkan ke dalam  D/A konverter. Sinyal analog ini kemudian dimasukkan ke dalam analog processor yang dilengkapi dengan analog filter yang berfungsi untuk menghaluskan sinyal analog tersebut. Kemudian sinyal analog tersebut digunakan sebagai sinyal pemodulasi pada modulator yang akan memodulasi sinyal carrier yang berasal dari lokal osilator. Adapun level output lokal osilator yang menuju Tx adalah +14 dBm, sedangkan output Tx sendiri sebesar -14 dBm. Level ini nantinya akan dikuatkan pada bagian Tx Power amplifier menjadi +29 dBm sebelum dipancarkan melalui ruang bebas.


Transmisi Local Oscollator BVK-402



*      Prinsip Kerja
      BVK-402 menyediakan carrier frekuensi radio akan dipancarkan dengan band frekuensi 6.4 - 7.1 GHz sesuai dengan rekomendasi CCIR.384. BVK-402 ini terdiri dari beberapa rangkaian yang diuaraikan sebagai berikut:
·         Konverter Tegangan
Kontrol frekuensi Oscillator diperoleh dengan menngunakan varaktor, dimana komponen ini berfungsi sebagai variabel kapasitor yang dicatu oleh tegangan +20 volt yang berasal dari step-up converter yang mendapat input tegangan +8V dan -8V.
·         DRO
Osilasi diperoleh dengan menggunakan dielektrik resonator dan transistor FET. Untuk memenuhi kebutuhan band frekuensi 6.4 - 7.1GHz.
·         Frequency Divider
Output frekuensi LO (SHF) dibagi beberapa tahap oleh frekuensi divider untuk memungkinkan synthesizer melakukan kontrol dengan cermat.
·         Frekuensi Synthesizer
Frekuensi synthesizer ini dipakai untuk membangkitkan frekuensi reference, untuk mengontrol stabilitasnya digunakan kristal oscillator 10 MHz. Fungsi control untuk mendapatkan kanal frekuensi RF yang dibutuhkan dilakukan dengan mengatur Thumbwheel S1001 dan S1002.
·         Amplifier dan Loop Filter
Rangkaian ini berfungsi untuk membandingkan frekuensi kristal sebagai referensi dengan frekuensi output LO setelah melalui divider. Hasil perbandingan ini digunakan untuk mengontrol tegangan DRO. Untuk memungkinkan dilakukan pengukuran TP01 sebuah divider bridge ditempatkan pada output amplifier.




RF Power Amplifier BVK-302



BVK-302 berfungsi untuk menguatkan sinyal carrier yang telah termodulasi 16 QAM dari BVK-301.
Gambar blok diagram BVK-302 di bawah ini terdiri dari beberapa rangkaian, antara lain:
·         Power Supply berfungsi untuk menyediakan tegangan DC yang dibutuhkan oleh rangkaian Amplifier. Power supply ini bersumber dari tegangan yang dapat bervariasi dari 17 V s.d 75 V DC.
·         Amplifier terdiri dari dua tingkat yaitu :
-          Tingkat pertama (250mW) berfungsi sebagai pre-amplifier terhadap sinyal RF yang berasal dari BVK-301.
-          Tingkat kedua (2.5W)  berfungsi sebagai penguat utama yang menghasilkan output power +29 dBm, disamping itu amplifier ini akan mengirim sinyalnyal ke rangkaian AGC melalui diode detektor.
·         AGC (Automatic Gain Control) ini dilengkapi dengan diode detector temperatur sehingga memungkinkan variasi gain dari amplifier ini sebanding dengan perubahan FET yang terdapat pada amplifier utama.
·         I2C (Inter Integrated Circuit) berfungsi sebagai bus yang mengirim semua informasi alarm dan informasi lainnya yang bertalian dengan kondisi BVK-302  ke supervisory interface.
·         Linearizer
·         Kompensasi temperatur


Normal Receiver (BVK-101)



Module Receiver ini berfungsi untuk melakukan proses demodulasi langsung sinyal SHF yang berasal dari antena menjadi sinyal baseband analog. Untuk melakukan fungsi tersebut pada module ini dilengkapi 2 buah subclock yaitu :
BVK-101 :
·         Low Noise Amplifier (LNA) berfungsi untuk melakukan penguatan awal terhadap sinyal SHF sebelum dilakukan proses demodulasi .
·         Demodulator
·         Baseband processor

BVK-401 :
·         Local oscillator


Receiver Diversity



Receiver ini biasanya dipasang pada stasiun yang panjang hop-nya cukup jauh atau pada daerah yang lintasan gelombangnya melewati permukaan air atau rawa-rawa. Pada prinsipnya diversity receiver sama dengan normal receiver, hanya saja pada diversity receiver ini dilengkapi dengan  diversity combiner. Fungsi dari devirsity combiner adalah untuk menggabungkan dua sinyal terima yang berasal dari antena normal dan antena diversity yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas penerimaan.
Susunan module diversity sama pada normal diversity ditambah dengan diversity combiner pada gambar berikut ini:


Receive Local Oscillator (BVK – 401)


Receive local oscilator BVK – 401 berfungsi unuk menyediakan frekuensi carrier di sisi penerima untuk keperluan proses demodulasi. Receive local oscilltor ini terdiri dari:
·         SHF transistor yang dilengkapi dengan dielektrik resonator
·         Varactor
·         Tuning piston untuk mengatur besarnya frekuensi yang diinginkan.
Block Diagram dari Receive local oscillator BVK – 401 ini ditunjukan seperti gambar berikut:




Sebuah Low Pass Filter pada varactor control digunakan untuk mengatur perubahan tegangan kontrol dalam MHz/V. Perubahan tegangan control inilah yang akan menentukan besarnya frekuensi output dari BVK – 401 ini. Pembangkitan alokasi frekuensi dari BVK – 401 ini dibagi ke dalam 4 subband dengan masing-masing mempunyai band 140 MHz. Keempat subband tersebut adalah sebagai berikut :
·         Sub-band A     : 6440 – 6580 MHz
·         Sub-band B     : 6600 – 6740 MHz
·         Sub-band C     : 6780 – 6920 Mhz
·         Sub-band D     : 6940 – 7080 Mhz
Untuk menjaga agar output frekuensi dari BVK – 401 ini tetap stabil, maka frekuensi oscilator ini dikontrol oleh Costa Loop yang tegangan kontrolnya dihasilkan dari module Equalizer – Regenerator BVA – 101. untuk mendapatkan frekuensi sesuai kebutuhan dapat dilakukan dengan mengatur piston yang terdapat pada penutup BVK – 401 ini.
Spesifikasi elektrik :
·         Band frekuensi            : 6.4 – 7.1 GHz
·         Stabilitas frekuensi      : slave to transmision
·         Output power level      : +14 dBm
Stabilitas power           : ±1 dB



Equalizer – Regenerator (BVK-101)




BVA-101 berfungsi untuk mengembalikan kualitas sinyal  digital empat stream,sama seperti kualitas waktu pengiriman di sisi transmit, demikian juga clock yang di bangkitkan pada modul BVA -101 ini harus sinkron dengan kecepatan data yang di kirim.BVA 101 mendapat input dari modul receiver dan outputnya di teruskan ke modul deframing unit.
Blok diagram BVA -101 diperlihatkan seperti gambar dibawah ini:
                                                                                 


*      Prinsip kerja
BVA-101 melakukan semua fungsi equalisasi dan regenerasi terhadap dua input sinyal baseband yang berasal dari receiver. Untuk melakukan fungsi ini, BVA-101 terdiri dari beberapa rangkaian :
·         AGC Amplifier
Masing-masing sinyal input J01 dan J02 dimasukkan kedalam amplifier secara terpisah. Amplifier ini dipakai untuk memperoleh level sinyal sesuai dengan yang dibutuhkan oleh A/D Converter. Untuk mendapatkan level yang sesuai, amplifier ini dilengkapi dengan AGC, dimana AGC ini mendapat kontrol dari output digital equalizer.
·         Gating control
Gating control dimungkinkan untuk melakukan sampling terhadap sinyal baseband sehingga diperoleh eye aperture maksimum, fungsi ini dilakukan oleh rangkaian voltage control phase shifter.
·         Clock Recovery
Untuk mendapatkan sinyal clock yang sama  dengan  sinyal clock di sisi pengirim, maka pada rangkaian clock recovery ini dilakukan  proses deteksi terhadap sinyal baseband 37.147 Mbps. Sinyal baseband ini akan digunakan sebagai sinyal kontrol, dengan demikian sinyal clock yang dibangkitkan pada module BVA-101 akan sinkron dengan sinyal clock disisi pengirim.
·         Amplitude &  Offset Control
Untuk menjamin agar proses regenerasi dapat berlangsung dengan akurat,maka pada rangkaian A/D converter disisipkan tegangan offset.Tegangan offset ini akan disuperposisikan dengan tegangan referensi yang tedapat pada A/D converter untuk bersama-sama melakukan proses sampling.

·         A/D Converter
A/D converter ini berfungsi untuk merubah sinyal baseband analog menjadi sinyal digital dengan menggunakan 8 bit converter.

·         Digital Equalizer
Digital equalizer ini menggunakan dua buah gate array. Equalizer ini berfungsi untuk:
-          Mengkompensasi atau melakukan koreksi terhadap gangguan interference yang disebabkan oleh hubungan multi hop.
-          Meningkatkan kualitas dan availability dari suatu sistem microwive link.
-          Mengkompensasi group delay yang diakibatkan oleh sistem wavegiude dan sirkulator.

·         pada perangkat receiver, maka diperlukan sinyal kontrol yang dibangkitkan oleh equalizer – regenerator. Carier Recovery
Frekuensi carrier penerima yang diakibatkan oleh Rx local oscilator di kontrol oleh tegangan yang dibangkitkan oleh equalizer – regenerator. Untuk menjaga akurasi dari tegangan kontrol ini, sistem kontrol ini dilengkapi dengan phase estimator, loop filter dan hunting oscilator.

·         Quadrature Control
Untuk menjaga agar diperoleh akurasi quadrature demodulasi
2.3.9. Deframing
*      Terminal Deframing Unit (BVK-102)
Pada module ini terjadi beberapa proses antara lain :
·         Gray coder
·         Sama seperti halnya pada Gray coder, Gray Decoder juga berfungsi untuk mereduksi bit error probability yang berdasarkan atas prinsip bahwa : status simbol konstelasi yang bersebelahan hanya boleh berbeda 1bit,hanya saja prosesnya berlawanan dengan prosesb yang terjadi pada Gray Coder.
·         Forward Error Correction
·         Disisi penerima (Terminal deframing unit)dengan menggunakan Wyner –Ash decoder FEC berfungsi untuk membaca dan mencari serta menganalisis lokasi error dari sinyal yang diterima.
·         Differential coder
·         Defrensial decoder adalah suatu proses yang berlawanan dengan proses yang terjadi pada defrensial coder.
·         Descrambling
·         Proses yang terjadi pada descrambler persis sama dengan proses yang terjadi pada scrambler di teminal framin unit. Demikian juga  fungsinya adalah untuk memperbaiki spektrum satu sinyal
·         Extra bit Demultiplexer
·         Extra bit demultixplexer befungsi untuk megeluarkan semua sinyal extra bit dari empat stream utama. Sinyal extra bit tersebut antara lain : Order wire, service channel dan auxiliary channel.


·         Buffer memory
·         Sinkronisasi dan VXO
·         Konverter paralel/serial
·         Juction
·         AIS(Alarm Indication Signal )

·         Konversi paralel ke serial
·         Konversi NRZ ke CMI
  










  


2.4 SOP dan SMP pada SKRGM
2.4.1. Jenis Pemeliharaan Berkala
            Untuk menghasilkan operasi perangkat  yang berkelanjutan dengan tingkat kehandalan dan kualitas yang tinggi tentunya tidak terlepas dari bagaimana cara kita memelihara dan menjaga kesinambungan.
            Pemeliharaan perangkat yang terencana dengan baik artinya adalah pemeliharaan perangkat yang dilaksanakan secara terjadwal, terprogram dengan jelas dan mengacu kepada standar pemeliharaan yang baku sehingga apabila terlaksana dengan baik akan otomatis kondisi diatas akan terpenuhi.
            Pemeliharaan perangkat secara berkala intuk sistem GMD Alcatel DM46U6 terdiri dari :
*      Pemeliharaan Harian
      Pemeliharaan harian adalah seluruh aktifitas atau kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan secara harian yang berkaitan dengan pemeriksaan visual perangkat dan aktifitas rutin untuk deteksi status perangkat.
Yang meliputi pemeliharaan harian yaitu antara lain:
·         Pembersihan perangkat
·         Pemeriksaan lampu indikator
·         Pemeriksaan alarm indikator
·         Pemeriksaan suhu dan kelembaban ruangan
*  Pemeliharaan Mingguan
      Pemeliharan mingguan adalah seluruh aktifitas atau kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan secara mingguan yang berkaitan dengan pemeriksaan visual dan pengukuran meter perangkat. Disamping itu kegiatan pemeliharaan mingguan ini meliputi kebersihan, keindahan, dan kerapihan material sehabis instalasi (kabel dll) dan menata setiap kelengkapan perangkat (data-data, buku manual dll) agar selalu dalam kondisi siap pakai dan mudah untuk ditemukan.
Yang meliputi pemeliharaan mingguan yaitu antara lain:
·         Pembersihan perangkat
·         Pemeriksaan lampu indikator
·         Pemeriksaan alarm indikator
·         Pemeriksaan suhu dan kelembaban ruangan
·         Meter Reading
·         Pembacaan alarm indikator
*  Pemeliharaan Bulanan
      Pemeliharaan bulanan aktifitas dilaksanakan setiap bulan (setiap awal bulan) dengan melakukan pembacaan meter (Meter Reading) melalui alat bantu pembaca yang disebut dengan Mikroterminal (BNA 701).
Kegiatan pemeliharaan bulanan meliputi pekerjaan pembacaan meter (Meter Reading) antara lain:
·         Alarm yang terjadi pada seluruh kanal Radio untuk kedua arah (O/E dan E/O)
·         Tegangan Power Supply seluruh kanal Radio untuk kedua arah (O/E dan E/O)
·         Kualitas seluruh kanal Radio (X,1,2..N)
*      Pemeliharaan Tahunan
Pemeliharaan tahunan adalah pemeliharaan yang melakukan aktifitas pemeliharaan dilaksanakan tahunan yang terdiri dari:
·         Pengukuran Lokal yang terdiri dari:
Ø  Meter Reading
Ø  Pengukuran TLO dan tegangan VCXO TLO
Ø  Pengukuran Level Output Transmitter
Ø  Pengukuran SHF Power Output
Ø  Pengukuran Spectrum Bandwith Amplifier
Ø  Pengukuran Level Power Receive Tanpa Diversity
Ø  Pengukuran Level Power Receive dengan Diversity
Ø  Pengukuran Automatic Gain Control
·         Pengukuran Hop
Ø  BER VS Rx Receive Level
·         Pengukuran Section
Ø  Pengukuran BER Section
Ø  Pengetesan Fungsi Switching
Ø  Pengetesan Fungsi Orde Wire
*      Pemeliharaan Dadakan (Corrective)
      Pemeliharaan dadakan atau corrective maintanance dimaksudkan untuk mengatasi gangguan yang terjadi dalam waktu seminimal mungkin. Pelaksana pemeliharaan dadakan ini dapat dilakukan oleh petugas teknik dengan kualifikasi tertentu atau yang telah memiliki pengetahuan / pengalaman menangani gangguan perangkat radio. Biasanya untuk pemeliharaan ini, hanya diperlukan penggantian modul yang rusak dengan modul cadangan (spare) dan sedikit pengaturan straping ataupun pengaturan level.
   2.4.2. Prosedur Pengukuran Perangkat GMD Type DM46U6
*      Meter Reading
Tujuan:
·         Untuk mengetahui besaran / level / tegangan titik point pengukuran perangkat menggunakan Mikroterminal
·         Alat ukur:
·         Tool Kit set (jika diperlukan)
·         Alat-alat pemeliharaan mingguan
·         Prosedur:
·         Sebelum melaksanakan pemeliharaan bulanan, terlebih dahulu lakukan pemeliharaan harian dan mingguan terhadap perangkat.
·         Tancapkan konektor (RS 232) Mikroterminal pada soker J01 yang terletak dibagian bawah handset orde wire.
·         Putar switch yang ada dibagian atasnya untuk memilih kanal yang akan diukur (X,1,2,3 .....dst)
·         Untuk masing-masing kanal Radio, catat hasilnya pada format laporan bulanan.
·         Perhatikan, bahwa pemeliharaan dilakukan pada kondisi perangkat bekrja / operasi normal, oleh karenanya tidak dibenarkan melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan terputusnya hubungan (perpu).
·         Setelah selesai, pastikan sekali lagi bahwa pekerjaan yang telah dilakukan tidak menimbulkan alarm apapun pada perangkat.
*      Prosedur Pengukuran Frekuensi TLO dan Tegangan VCXO TLO
Tujuan:
·         Mengukur frekuensi Transmitter Local Oscillator (BVK-402)
·         Mengukur tegangan VCXO TLO (tegangan bias resistor R-01)
Alat yang digunakan:
·         Spectrum Analyzer / Microwave Frequency Counter
·         Multimeter Digital
·         Extender Unit Transmitter
·         Coaxial Cable 50 Ohm
Prosedur Pengukuran Frequency TLO
·         Keluarkan module terminal / repeater framing dari slim rack.
·         Lepaskan coaxial cable semi rigid antara J02 dan SHF Tx filter.
·         Hubungkan terminal J02 dengan spectrum analyzer / Micro. Freq Counter.
·         Set kongfigurasi spec. Analyzer / MF counter sesuai frekuensi yang diukur.
·         Bila terjadi pergeseran nilai nilai frek dari spec. nominal, atur TLO Tuning.
·         Amati penunjukan tegangan pada test point TP.01 (Tx) dengan menggunakan multimeter digital.
·         Amati penunjukan tegangan varactor diode TLO.VV pada display mikroterminal.
·         Catat hasil pengukuran sebelum dan sesudah pengaturan.
·         Normalkan kembali setelah selesai pengukuran.
Prosedur Pengukuran Tegangan VCXO TLO
·         Cabut unit transmitter dari slim rack, kemudian pasang kembali dengan menggunakan Extender Unit.
·         Ukur tegangan bias pada R01 dengan multimeter digital.
·         Catat hasil pengukuran sebelum dan sesudah pengaturan.
Catatan: Disarankan untuk pengukuran Tx Local Oscillator (BVK-402) dan pengukuran Tegangan VCXO TLO (Resistor R01) dilakukan secara bersamaan, sebab apabila hasil pengukuran frekuensi TLO hasilnya sudah sesuai dengan nominalnya ada kemungkinan Tegangan VCXO nya bergeser atau sebaliknya.
Nilai Batas Pengukuran:
Toleransi pergeseran frekuensi :      (F – Fo) / Fo ≤ (± 2.E – 5)
Dimana, F    = nilai nominal frekuensi yang diukur
               Fo  = nilai hasil pengukuran
Spesifikasi:
Range Tegangan bias VCXO TLO (R01) = 10 ~ 20 mVolt.
Range Tegangan pada Test Point TP.01 (Tx) = 1.6 V ± 0.2 Volt.
Range Tegangan Varactor Diode TLO.VV = 0.0 Volt.

*      Prosedur Pengukuran Level Output Transmitter
Alat yang digunakan:
·         Power Meter
·         Sensitive Sensor type LP (Low Power)
·         Adapter Connector dari sma type to N-type.
·         Coaxial Cable 50 Ohm
Prosedur Pengukuran Level Output Transmitter:
·         Lakukan kalibrasi Power Meter sesuai dengan frekuensi TLO (gunakan sensor Low Power).
·         Lepaskan coaxial cable semi rigid antara unit Transmitter dan terminal J01.
·         Sambungkan terminal J01 dengan Power Meter.
·         Catat hasil pengukuran yang diperoleh.
·         Normalkan kembali setelah selesai pengukuran.
Nilai Batas Pengukuran:
Nilai referensi level Output Transmitter = -14 ± 2 dBm.
*      Prosedur Pengukuran  Level Output SHF Amplifier
Alat yang digunakan:
·         Power Meter
·         Multimeter Digital
·         Power Sensor (High Power)
·         RF Attenuator 20 ~ 30 dB.
·         Connector adapter sma type N-type
·         Coaxial  Cable 50 Ohm.
Prosedur Pengukuran Level Output SHF Amp. :
·         Kalibrasi Power Meter sesuai frekuensi Transmitt (gunakan power sensor dan RF Attenuator yang sesuai).
·         Hubungkan Multitester (voltmeter) pada tes point (+ 4 Volt) di panel depan SHF Amplifier dan chek penunjukan tegangannya.
·         Lepaskan Coaxial cable CMI  input (J01) pada modul framing.
·         Lepaskan Coaxial cable semi rigid anta J02 pada unit SHF Amplfier dan SHF Tx Filter.
·         Hubungkan J02 pada unit SHF Amplifier dengan input Power Meter.
·         Baca hasil penunjukan (nilai pembacaan + nilai RF Att), dan lakukan pengaturan bila terdapat penyimpangan.
·         Catat hasil pengukuran sebelum dan sesudah pengaturan.
·         Normalkan kembali setelah selesai pengukuran.
Batas Nilai Pengukuran:
Power Output SHF Amplifier    =    + 29 dBm ± 1 dB
Tegangan + 4 Volt                     =    + 4 Volt ± 0.1 V.  
*      Prosedur Pengukuran Spectrum Band Width Amplifier
Alat yang digunakan:
·         Spectrum Analyzer
·         Connector adapter sma type N-type
·         Coaxial  Cable 50 Ohm.
Prosedur Pengukuran:
·         Lepaskan Coaxial cable semi rigid antara J02 pada unit SHF Amplifier dan SHF Tx Filter.
·         Hubungkan Terminal J02 dengan input Spectrum Analyzer.
·         Set Konfigurasi Spectrum Analyzer sesuai frekuensi yang Transmit yang akan diukur,
·         Atur VBW dan RBW Spectrum Analyzer sampai indikasi “Uncal”nya hilang.
·         Dari gambar yang diperoleh pada Spectrum Analyzer, tentukan band width-nya dan chek apakah terdapat intermodulasi atau tidak.
·         Catat hasil pengukuran sebelum dan sesudah pengukuran
·         Normalkan kembali setelah selesai pengukuran.
Batas Nilai Pengukuran:
Band Width                                =    < 40 MHz.
C/N Intermodulasi                     =    > 35 dBm.
*      Prosedur Pengukuran Level Power Receive tanpa Diversity
Alat yang digunakan:
·         Power Meter
·         Power Sensor (Low Power)
·         Connector adapter sma type N-type
·         Coaxial  Cable 50 Ohm
Prosedur Pengukuran:
·         Kalibrasi Power Meter sesuai frekuensi Receive (gunakan power sensor “low power”)
·         Lepaskan Coaxial cable semi rigid antara SHF Rx  filter dan J01 pada modul Receiver.
·         Hubungkan Output SHF Rx Filter dengan input power meter.
·         Catat hasil pengukuran yang diperoleh.
·         Normalkan kembali setelah sesuai pengukuran.
Nilai Referensi dan Toleransi:
·         Po                             = Power receive berdasarkan perhitungan “Hop   Calculation”
·         Pr                                         = Power receive hasil pengukuran.
·         Toleransi                           = Pr     = Po ± 2 dB       
*      Prosedur Pengukuran Level Power Receive dengan Diversity
Alat yang digunakan:
·         Power Meter
·         Power Sensor (Low Power)
·         Coaxial  Cable 50 Ohm
Prosedur Pengukuran:
·         Kalibrasi Power Meter sesuai frekuensi Receive (gunakan power sensor low Power range 20 ~ 70 dBm)
·         Lepaskan Coaxial cable semi rigid antara Normal SHF Rx  filter dan J05 pada modul Receiver Diversity.
·         Hubungkan Output SHF Rx Filter dengan input power meter.
·         Catat hasil pengukuran yang diperoleh.
·         Normalkan didtem (Main sistem), kemudian lakukan hal yang sama untuk Diversity sistem dengan melepas coaxial cable semi rigid untuk Diversity SHF Rx Filter dengan J06 pada modul receiver Diversity.
·         Hubungkan Output Diversity SHF Rx Filter dengan input Power Meter.
·         Catat hasil pengukuran yang diperoleh.
·         Normalkan kembali setelah sesuai pengukuran.
Nilai Referensi dan Toleransi:
·         Po                             = Power receive berdasarkan perhitungan “Hop   Calculation”
·         Pr                                         = Power receive hasil pengukuran.
Toleransi                                 = Pr     = Po ± 2 dB
*      Prosedur Pengukuran Automatic Gain Control
Alat yang digunakan:
·         Multitester (Voltmeter)
·         Micro Terminal
Prosedur Pengukuran:
      Mengukur AGC Mai, AGC Diversity dan AGC Combine:
·         Pasang Micro Terminal dan posisikan channal selector pada kanal yang diukur.
·         Monitor tegangan AGC pada test poin TP02 pada modul Receiver Diversity.
·         Masuk menu “Diversity Combiner” kemudian tekan : Valid.
·         Rubah TDE : G_RF1 =1 & TDE : G_RF2 = 0
·         Kembali ke menu “Diversity Combiner”, kemudian pilih “phase Value” dan tekan : Valid.
·         Catat hasil penunjukan pada voltmeter tiap phase dari 0 ~ 240 dengan step 30.
Contoh:
Phase Value
AGC Volt
00
30
60
....
....
....
240
3.95
3.98
3.96
....
....
....
....


Kembali ke  Phase Value = 0, kemudian nilai AGC yang diperoleh dirata-ratakan, misalnya = 3.96 dan merupakan nilai AGC1.
·         Kembali ke sub menu “Gain of Path”, tekan kembali : Valid
·         Rubah TDE : G_RF1 = 0 & TDE : G_RF2 = 1.
·         Catat nilai yang terbaca pada voltmeter sebagai nilai AGC2
·         Rubah TDE : G_RF1 = 1 & TDE : G_RF2 = 0.
·         Catat nilai yang terbaca pada voltmeter sebagai nilai AGC (combine)
·         Tekan “Return” pada microterminal sampai ke Menu Utama

*      Prosedur Pengukuran Frekuensi RLO dan Tegangan VCXO RLO


Alat yang digunakan :
·         Spectrum Analyzer
·         Multimeter Digital
·         Extender Unit Receiver
·         Conector / adapter Connector
·         Coaxial cable 50 Ohm
Prosedur pengukuran :
·         Set frekuensi spektrum analyzer atau microwave frekuensi counter sesuai nilai frekuensi unit receiver yang akan diukur.
·         Lepaskan unit receiver / receiver diversity dari shelf rack, kemudian pasang kembali dengan menggunakan exrender unit.
·         Rubah posisi switch S801 ke posisi pengukuran (ke atas).
·         Hubungkan output RLO dengan input alat ukur spectrum analyzer/micro frekuensi counter.
·         Monitor tegangan bias RLO pada R104 dengan Multitester Digital (Voltmeter).
·         Bila terjadi pergeseran, lakukan pengaturan pada RLO Tuning .
·         Catat hasil pengukuran sebelum dan sesudah pengaturan.
Nilai Batas Pengukuran :
Toleransi pergeseran frekuensi : (F-Fo) / Fo ≤ (± 2.10-5)
Ket :        F          =  nilai nominal frekuensi yang diukur
               Fo        = nilai hasil pengukuran
Range tegangan bias VCXO RLO (R104)        = 10 ~ 20 mVolt.
Range tegangan pada test point TP.01 (Rx)     = 1.6 V ± 0.2 V
Range tegangan Varactor Diode RLO.VV        = 0.0 V
*      Prosedur Pengukuran Threshold vs BER
Tujuan :
Check sensitivitas receiver masing-masing hop. Level daya receiver merupakan fungsi dari BER.

Perangkat Test :
·         BER analyzer (Tx dan Rx)
·         SHF variabel attenuator (0 ~ 70 dB)
·         2 buah kabel coax.semirigit 50 Ω
·         2 buah kabel adaptor “RIM Female / N Male”
·         2 buah kabel coax.”BNC Male / 1.6 ~5.6” 75 Ω

                            Prosedur :
·         Pengukuran dilakukan pada semua section, terminal ke terminal dan diutuhkan paling sedikit 2 team pengukuran.
·         Pada arah E/O pada station terminal yang bersangkutan dilakukan loop pada akses CMI.
·         Team pengukuran yang pertama (team 1) mengukur BER dengan BER analyzer pada station arah O/E.
·         Team pengukuran yang ke dua (team 2) bergerak dari satu station ke station lainnya untuk menyispkan Variable Attenuator.
·         Pengetesan yang harus dilakukan :
~ Tiap Hop (dua arah O/E dan E/O)
~  Tiap kanal (Bearer)
·         Kedua tem pengukuran dapat berkomunikasi dengan menggunakan Order Wire.



2.5 Trouble Shooting/Analisis Gangguan
Kegagalan yang biasa terjadi di sisi tranmit yaitu antara lain :
·   Kecacatan pada pengukuran Transmit IF Level.
·   Kecacatan pada pengukuran daya keluaran pada Transmitter Unit.
·   Kecacatan pada pegukuran Level Local Osilator.
·   Kecacatan pada pengukuran Modulator.
Gangguan –gangguan diatas dapat disebabkan antara lain oleh redaman yang terjadi pada amplifier, redaman yang tinggi pada waveguide, dan pemasangan konektor yang kurang kuat atau tepat.
Untuk mengetahui adanya gangguan yang terjadi pada sisi transmit,dapat dilihat pada alarm panel.Jika lampu alarm untukTx/Rx ataupun modulator menyala.Langkah pertama adalah koordinasi dengan lawan untuk memindahkan ke kanal standby dan harus diperhatikan selanjutnya adalah modul yang mengalami gangguan.Misalnya pada bagian transmitter, langkah yang dapat ditempuh antara lain :
o   Mengadakan pergantian modul
Bila setelah melakukan pergantian modul sistemtelah dapat bekerja dengan baik, Jika sistemmasih mengalami gangguan dapat dipastikan kerusakan bukan pada modul tersebut.
o   Melakukan Loop Back
Selain cara pergantian modul,penangan gangguan dapat pula dengan cra loop back.Cara ini dapat dilakukan pada modul Tx/Rx Rack maupun modem.Setelah melakukan loop back ternyata gangguan benar terjadi pada perangkat sendiri barulah kemudian diadakan pemeriksaanmodul.
      Jika pada saat pengukuran hasil yang diperoleh ada yang diluar spesifikasi atau tolak ukur,perangkat yang mengalami kerusakan harus terlebih dahulu diperiksa pada bagian mana dari perangkat tersebut yang mengalami kerusakan dan apabila kerusakan tersebut tidak dapat lagi ditolelir,maka perangkat tersebut harus segera diganti.
A.Loop Back
                  Loop Back merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mengetahui letak gangguan pada suatu sistem di stasiun sendiri atau di stasiun lawan







2.6 Trouble Shooting Perangkat
Untuk prosedur analisis alarm sistem transmisi GMD alcatel DM 46U6 seperti uraian di bawah ini yaitu antara lain sebagai berikut :
1.    Alarm Loop Back Mode
Modul                       :           Framing Unit
Sumber Gangguan  :           Supervisory Interface
Arti Gangguan          :           Distant Loop Back Alarm
Akibat                       :
·         Loop back sisi kirim pada modul framing dan deframing.
·         Sinyal terputus pada satu arah.
·         Terjadi error awal.
Penyebab                 :
·         Di terminal       :

2.    Local Loop Back Mode
Modul                       :      Deframing Unit
Sumber Gangguan  :      Supervisory Interface
Arti Gangguan          :      Terminal : perintah operator dengan menggunakan microterminal, framing unit diisolasi (loop framing unit ke deframing)
Akibat                       :
Penyebab                 :

3.    Stream Loss At Transmitter Input
Modul                       :     BVK 301 transmitter
Sumber Gangguan  :     BVK 301 transmitter
Arti Gangguan          :     Setidaknya satu stream tidak ada, terjadi clock loss atau laju yang tidak benar.
Akibat                       :    
·         Interupsi sisi terima.
·         Bit Error Rate (BER)
·         Terjadi ALPEM, ALPRE, ALRYT, ALPOR.
Penyebab                 :
·         Framing Unit abnormal.
·         Gangguan framing Unit.
·         Gangguan pada modul transmitter.
Tindakan                  :
·         Check kondisi framing unit.
·         Check adanya stream pada input transmitter dengan :
      ~ Apabila hilang clock, ganti framing unit, atau check clock pada input
Buffer.
·         Ganti transmitter.
4.    Transmission TLO Alarm
Modul                       :           BVK 301 transmitter
Sumber Gangguan  :           BVK 402 local oscilator
Arti Gangguan          :           Local Oscillator sync loss
Akibat                       :        Alarm ini langsung memutuskan daya (untuk keamanan) pada penguat daya, dengan akibatnya terjadi loss pada sinyal penerima (terjadinya reaksi sekitar 10 ms)è ALPEM
Penyebab                 :
·         Kerusakan komponen dalam sirkit loop.
·         Kerusakan kabel fleksibel TLO.
·         Posisi Thumbwheel.
Tindakan                  :
·         Ganti TLO.
·         Check sambungan kabel.
·         Check posisi thumbwheel dan pengaturan kembali piston.
·         Check koheren antara tampilan microterminal posisi dan posisi thumbwheel, ganti TLO.
Lain-lain                    :     Atur oscillator dengan hati-hati, jalankan prosedur yang telah ditentukan, untuk menghindari resiko kerusakan cavity transistor.
5.    Transmitted Power Alarm
Modul                       :     Amplifier
Sumber Gangguan  :     Amplifier
Arti Gangguan          :     Output power ≤ +24 dBm ± 1 dB.
Akibat                       :    
·         Lihat ALOLE.
·         Interupsi (P, juga berpengaruh) atau BER.
·         Kemungkinan Interupsi (P, juga berpengaruh) atau BER, dan peningkatan  sensitifitas propagasi (koefisien).
Penyebab                 :    
·         BVK 492 transmisi TLO.
·         Coaxial pada output LO cavity ke modulator.
·         Transmitter.
·         Semi-rigid cable antara output transmitter dan amplifier.
·         Amplifier stages (penguat bertingkat)
Tindakan                  :    
·         Periksa oscillator (adanya ALOLE alarm).
·         Periksa oscillator pada output LO cavity.
·         Periksa level output transmitter (khususnya – 14 dBm)
·         Periksa semi-rigid kabel antara output transmitter dan amplifier.
·         Ganti amplifier.
6.    Carrier Alarm
Modul                       :     BVA 101 equalizer-regenerator
Sumber Gangguan :     BVA 101 equalizer-regenerator
Arti Gangguan          :     Signal loss
Akibat                       :
·         Penerimaan penginstruksian sirkuit pada semua kasus.
·         ALPRE.
·         Kemungkinan ALPRE.
·         Interupsi.
·         BER atau interupsi.
Penyebab                 :
·         Semi-rigid kabel pada output amplifier menuju transmisi.
·         Semi-rigid kabel antara penerima dan sambungan dari filter.
·         RLO fault.
·         Coaxial dari receiver diputus dari panel depan atau coax cadangan.
·         Equalizer.
·         Masalah transmisi :
      ~ Unit framing
      ~ Modulator (Daya output sufficient untuk menghindari triggering amplifier alarm)
      ~ Transmisi digital filter
Tindakan                  :    
·         Periksa semi-rigid kabel pada output amplifier menuju transmisi.
·         Periksa semi-rigid kabel antara penerima dan sambungan dari filter.
·         Periksa RLO.
·         Periksa coaxial dari receiver.
·         Ganti equalizer.
·         Periksa sirkuit transmisi.
7.    Received Power Alarm.
Modul                       :     BVK 101 receiver atau BVK 102 diversity receiver
Sumber Gangguan  :     BVK 101 atau 102 baseband circuit
Arti Gangguan          :     Received power drop dengan error rate 10-3
Akibat                       :     Error rate yang tinggi atau interupsi dari transmisi
Penyebab                 :
·         Propagasi.
·         Masalah pada sirkuit transmisi (ALPEM atau ALOLE alarm) atau kabel semi-rigid antara output amplifier dan sambungan filter.
·         Semi-rigid kabel antara sambungan filter dan receiver.
·         Frekuensi RLO tidak cocok dengan kanal.
·         Receiver    :    sambungan internal.
·         Receiver    :    Unit Diversity Combiner.
·         Receiver    :    Unit fungsi lainnya.
Tindakan                  :    
·         Periksa sirkuit transmisi (kabel semi-rigid).
·         Periksa semi-rigid kabel antara sambungan filter dan penerima.
·         Periksa frekuensi RLO.
·         Periksa sambungan internal receiver.
·         Periksa operasi dari diversity combiner (dengan memasukkan sinyal secara langsung pada channel input yang normal).
·         Ganti Receiver.
Lain-lain                    :
·         Alarmnya dapat ditrigger ketika putus, jika RLO benar-benar diatur (>40 MHz).
·         Suatu hysteresis sirkuit diberikan untuk alarmnya, untuk menghindari berbagai fluktuasi di sekitar threshold 10-3.
8.    Dejustification Rate Alarm
Modul                       :     Deframing Unit
Sumber Gangguan  :     Deframing Unit
Arti Gangguan          :     Dejustification laju alarm
Akibat                       :     Interupsi di segala hal
Penyebab                 :    
·         ALTJ alarm.
·         Error rate yang sangat tinggi.
·         Deframing unit.
Tindakan                  :    
·         Lihat ALTJ.
·         Lihat propagasi atau alarm lain.
·         Ganti deframing unit.
Hal lain                     :     Alarm harus ada di atas 500 ms untuk supervision interface untuk mengirim alarm pada supervision system.
9.    Justification Rate Alarm
Modul                       :     Framing Unit
Sumber Gangguan  :     Framing Unit
Arti Gangguan          :     Justification rate alarm
Akibat                       :
·         Interupsi sinyal dari pelanggan dan BER.
·         Error.
Penyebab                 :    
·         Kesalahan utama dari laju frekuensi.
·         Micro-interruption (konektor atau sinyal pelanggan).
·         Board fault.
Tindakan                  :
·         Periksa sinyal dari AS.
·         Periksa sambungan dengan AS dan sinyal dari pelanggan.
·         Ganti board.
Lain-lain                    :     Alarm harus ada di atas 500 ms untuk supervision interface untuk mengirim alarm pada supervision system.
10.  2 Mbps Transmission Alarm
Modul                       :     2 Mbps interface atau EOW extension
Sumber Gangguan  :     2 Mbps interface atau EOW extension
Arti Gangguan          :     2 Mbps transmission loss
Akibat                       :

Penyebab                 :
·         HDB3 signal loss.
·         Loss of clock dari framing unit.
Tindakan                  :
·         Periksa keberadaan dari sinyal HDB3.
·         Ganti interface 2 Mbit/s atau EOW extension.
·         Periksa hubungan antara X 215 (E/R rack) dan BEAO30 subrack jika EOW extension digunakan.


11.  Transmission Power Supply Alarm
Modul                       :     Power Supply
Sumber Gangguan  :     Supervision Interface        :           Alarm ditrigger dengan deviasi 20 % dari harga nominal
Arti Gangguan          :     Transmission power supply alarm
Akibat                       :     Pengintrupsian transmisi
Penyebab                 :
·         Hilangnya satu atau lebih tegangan sekunder.
·         Satu atau lebih tegangan sekunder bergeser dari toleransi yang diijinkan.
Tindakan                  :
·         Ganti power suplly.
·         Periksa secondary voltage, ganti power supply.





















0 komentar:

Posting Komentar